9/07/2015

PROPOSAL PENELITIAN EKSPERIMEN



PENGruf METODE SOSIODRAMA DALAM PEMBELAJARAN IPS TERHADAP KECERDASAN KINESTETIK SISWA 

(Penelitian Tindakan Kelas Di Kelas VII-8 SMP Negeri 9 Bandung)


PROPOSAL
Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Penulisan Skripsi




Oleh,
Rifal Nurkholiq
NIM 1103502




JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIALFAKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIALUNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIABANDUNG2014



A. Judul Penelitian

PENGARUH METODE SOSIODRAMA UNTUK MENINGKATKAN KECERDASAN KINESTETIK SISWA DALAM PEMBELAJARAN IPS

(Studi Quasi Eksperimen pada kelas VII di SMPN 9 Bandung)

B. Latar Belakang

Tujuan pembelajaran adalah perilaku hasil belajar yang diharapkan terjadi, dimiliki, atau dikuasai oleh peserta didik setelah mengikuti kegiatan pembelajaran tertentu. Hal ini didasarkan berbagai pendapat tentang makna tujuan pembelajaran atau tujuan instruksional.
Tujuan pembelajaran adalah pernyataan mengenai keterampilan atau konsep yang diharapkan dapat dikuasai oleh peserta didik pada akhir priode pembelajaran (Slavin, 1994, hlm: 23 ).

Pendapat di atas menyatakan bahwa Tujuan pembelajaran merupakan arah yang hendak dituju dari rangkaian aktivitas yang dilakukan dalam proses pembelajaran. Tujuan pembelajaran dirumuskan dalam bentuk perilaku kompetensi spesifik, aktual, dan terukur sesuai yang diharapkan terjadi, dimiliki, atau dikuasai siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran tertentu.  Sebisa mungkin peserta didik harus didorong untuk aktif.
Sedangkan tujuan pembelajaran IPS adalah perwujudan dari suatu pendekatan interdisipliner dari ilmu sosial. Ia merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu sosial yakni sosiologi, antropologi budaya, psikologi, sejarah, geokrafi, ekonomi, ilmu politik dan ekologi manusia, yang diformulasikan untuk tujuan instruksional dengan materi dan tujuan yang disederhanakan agar mudah dipelajari.
Sedangkan S. Nasution mendefinisikan IPS sebagai pelajaran yang merupakan fusi atau paduan sejumlah mata pelajaran sosial. Dinyatakan bahwa IPS merupakan bagian kurikulum sekolah yang berhubungan dengan peran manusia dalam masyarakat yang terdiri atas berbagai subjek sejarah, ekonomi, geografi, sosiologi, antropologi, dan psikologi sosial.
Dari kedua pendapat diatas disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran IPS adalah untuk memberikan pengetahuan kepada siswa tentang fenomena sosial di lingkungan sekitar siswa. Setelah dibekali pengetahaun tersebut kemudian siswa diharapkan memiliki kecapkapan untuk memahami dan terlibat dalam hubungannya dengan lingkungan sekitar siswa .
Namun dari observasi yang dilakukan oleh peneliti dalam kegiatan belajar mengajar mata pelajaran IPS di SMP Negeri 9 Bandung terlihat bahwa tujuan IPS belumlah tercapai seutuhnya.. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan di SMP Negeri 9 Bandung perhatian siswa terhadap mata pelajaran khususnya mata pelajaran IPS terlihat kurang, ketika guru menjelaskan siswa yang memperhatikan hanya sebagian kecil, siswa lain ada yang berbicara dengan teman sebelahnya, menggambar dan melakukan aktivitas lain. Perhatian yang kurang menunjukan bahwa minat siswa untuk belajar IPS masihlah rendah.
Namun segala aktivitas siswa yang tidak memperhatikan guru saat kegiatan pembelajaran dianggap adalah suatu bentuk kecerdasan yang lain. Bila kita memperhatikan pendapat Howard Gardner (dalam Armstrong, 2002 hlm, 22), pencetus Multiple Intelligence, menyatakan bahwa.
Setiap anak mempunyai cara berbeda untuk menjadi pandai: melalui kata-kata, angka, gambar, musik, ekspresi fisik, pengalaman dengan alam, interaksi sosial, dan pemahaman diri sendiri. Setiap anak memiliki mempunyai kedelapan kecerdasan dengan proporsi yang berlainan.

Berdasarkan pada hal tersebut, peneliti beranggapan bahwa para siswa di SMP Negeri 9 Bandung memiliki kecerdasan yang lain yang belum dimanfaatkan oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar. Kecerdasan tersebut yaitu kecerdasan kinestetik. Karena hal tersebut peneliti ingin melakukan upaya untuk meningkatkan kecerdasan kinestetik siswa dengan menggunakan metode sosiodrama.


B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan di atas maka masalah yang timbul dalam pembelajaran dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
1. Pembelajaran yang dilakukan guru kelas VII belum dapat meningkatkan minat belajar mata pelajaran IPS secara maksimal.
2. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan belajar siswa kelas VII pada mata pelajaran IPS.
3. Pembelajaran mata pelajaran IPS dapat berhasil bila menggunakan metode pembelajaran yang menarik.
4. Pembelajaran menggunakan metode pembelajaran sosiodrama dapat memotivasi siswa untuk bergerak aktif sehingga menghasilkan penyerapan informasi yang lebih besar.

C. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “apakah ada peningkatan kecerdasan kinestetik s:iswa kelas VII SMP 9 Bandung yang diajar dengan menggunkan metode sosiodrama dalam pembelajaran IPS?. Maka untuk memudahkan dalam penelitian dan mengarahkan dalam pembahasan penulis menjabarkan dalam bentuk pertanyaan sebagai beikut:
1. Apakah pengaruh penggunaan metode sosiodrama dapat meningkatkan kecerdasan kinestetik siswa dalam pembelajaran IPS?
2. Apakah ada perbedaan antara kelas yang menggunakan metode sosiodrama dengan kelas yang tidak mengunakan metode sosiodrama dalam keterampilan kinestetik siswa dalam pembelajaran IPS?

D. Variabel Penelitian
X : Metode Sosiodrama
Y : Kecerdasan Kinestetik


E. .Tujuan Penelitian

Mengacu pada rumusan masalah yang dipaparkan sebelumnya, maka secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kecerdasan kinestetik siswa siswa kelas VII SMP 9 Bandung dengan menggunakan metode sosiodama dalam pembelajaran IPS. Secara rinci, tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan kecerdasan kinestetik siswa kelas VII SMPN 9 Bandung dengan menggunakan metode sosiodrama dalam pembelajaran IPS
2. Mengetahui pengaruh penggunaan metode sosiodama untuk meningkatkan kecerdasan kinestetik siswa kelas VII SMPN 9 Bandung dengan menggunakan metode sosiodrama dalam pembelajran IPS.
3. Mengetahui perbedaan kecerdasan kinestetik siswa antara kelas yang menggunakan metode sosiodrama dan yang tidak menggunakan, dalam upaya meningkatkan kecerdasan kinestetik dengan menggunakan metode sosiodrama dalam pembalajara IPS.

F. Manfaat Penelitian

Jika tujuan peneliti yang dikemukakan diatas dapat tercapai, penelitian ini akan memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis .
Secara umum hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan kepada proses pembelajaran dalam meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS.
2. Manfaat Praktis
a. Sebagai bahan informasi bagi guru dalam memilih metode sosiodrama dalam proses pembelajaran langsung untuk mencapai tujuan pembelajran yang diinginkan dan hasil belajar yang optimal.
b. Sebagau bahan informasi untuk para peneliti berikutnya yang iingin mengkaji tentang metode pembelajaran dan model pembelaaran.
c. Sebagai bahan informasi bagi sekolah dalam memilih model pembelajaran yang variatif dalam proses pembelajaran

G. Kajian Teori

1. Pengertian Kecerdasan

Pada umumnya, kata kecerdasan diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk mampu cepat bertindak, dapat mengatasi berbagai masalah, menjadi tempat bertanya atau konsultasi, mampu membaca dengan kecepatan tinggi, lulus dengan predikat cumlaude, pintar cari uang, sukses dalam karier, dapar mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus atau ahli dalam satu bidang tertentu.
Kecerdasan menurut Gardner (2006) adalah suatu kemampuan atau keterampilan yang dapat ditumbuh kembangkan. Menurut kamus Oxford mendefinisikan Kecerdasan (intelligence) sebagai kemampuan untuk belajar, mengerti, bernalar/kemampuan mental.
Menjadi cerdas tidak selalu mendapatkan nilai yang baik di sekolah akan tetepi kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan, dimana menjadi cerdas meliputi kemampuan untuk menangani suatu masalah atau pekerjaan, bagaimana mengatur hidup secara umum.
Secara garis besar kecerdasan atau intelligency adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berfikir secara rasional. Oleh karena itu, kecerdasan atau intelegensi tidak dapat diamati secara langsung tetapi harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berfikir rasional itu.
Setiap orang memiliki kecerdasan yang berbeda. Howard Gardner seorang ahli riset dari Amerika mengembangkan model kecerdasan “Multiple Intelligence”. Multiple intelligence artinya bermacam-macam kecerdasan, tetapi dengan kadar pengembangan yang berbeda. Berikut ini adalah jenis kecerdasan menurut Gardner dalam Sari (2010:15) diantaranya:
a. Kecerdasan Matematika dan Logika atau Cerdas Angka
Memuat kemampuan seorang anak berfikir secara induktif dan deduktif, kemampuan berfikir menurut aturan logika dan menganalisis pola angka-angka, serta memecahkan masalah melalui kemampuan berfikir. Anak-anak dengan kecerdasan ini cenderung menyenangi kegiatan analisis dan mempelajari sebab akibat terjadinya sesuatu, misalnya menyusun hipotesis, mengkategori, dan mengklasifikasi apa yang dihadapinya.
Anak-anak dengan kecerdasan Matematika dan Logika menyukai aktivitas berhitung dan memiliki kecepatan yang tinggi dalam menyelesaikan problem matematika. Bila kurang memahami, mereka cenderung bertanya dan mencari jawaban atas hal yang kurang di pahaminya. Anak-anak yang cerdas angka juga menyukai permainan yang melibatkan kemampuan berfikir aktif seperti catur dan bermain teka-teki. Setelah remaja biasanya mereka cenderung menggeluti bidang Matematika atau IPA, dan setelah dewasa menjadi insinyur, ahli teknik, ahli statistic, dan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan angka (Sari, 2010:16)
b. Kecerdasan Bahasa atau Cerdas Kata.
Memuat kemampuan seorang anak untuk menggunakan bahasa dan kata-kata yang baik secara lisan maupun tulisan dalam berbagai bentuk yang berbeda untuk mengekspresikan gagasannya. Anak-anak dengan kemampuan bahasa yang tinggi umumnya ditandai dengan kesenangannya pada kegiatan yang berkaitan dengan bahasa seperti membaca, membuat puisi, dan menyusun kata mutiara. Anak-anak ini cenderung memiliki daya ingat yang kuat akan nama-nama orang, istilah-istilah baru, maupun hal-hal yang sifatnya detail. Mereka cenderung lebih mudah belajar dengan cara mendengarkan dan verbalisasi. Dalam hal kemampuan menguasai bahasa baru, anak-anak ini umumnya memiliki kemampuan yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak yang lainnya. Pada saat dewasa biasanya meraka akan menjadi presenter, pengarang, penyair, wartawan, penerjemah dan profesi-profesi lain yang banyak melibatkan bahasa dan kata-kata (Sari, 2010:16).
c. Kecerdasan Musikal atau Cerdas Musik
Memuat kemampuan seorang anak untuk peka terhadap suara-suara nonverbal yang berada di sekelilingnya, dalam hal ini adalah nada dan irama yang indah, mulai dari senandung yang mereka lakukan sendiri, dari radio, kaset, menonton orchestra, atau memainkan alat music sendiri. Mereka lebih mudah mengingat sesuatu dengan usik. Saat dewasa mereka dapat menjadi penyanyi, pemain music, composer pencipta lagu, dan bidang-bidang lain yang berhubungan dengan musik (Sari, 2010:16).
d. Kecerdasan Visual Spasial atau Cerdas Gambar
Memuat kemampuan seorang anak untuk memahami secara lebih mendalam mengenai hubungan antara objek dan ruang. Anak-anak ini memiliki kemampuan menciptakan bentuk dalam pikirannya, atau menciptakan bentuk-bentuk tiga dimensi. Setelah dewasa biasanya mereka akan menjadi pemahat, arsitek, pelukis, desainer, dan profesi lain yang berkaitan dengan seni visual (Sari, 2010:17).
e. Kecerdasan Kinestetik atau Cerdas Gerak
Memuat kemampuan seorang anak untuk secara aktif menggunakan bagian-bagian atau seluruh tubuhnya untuk berkomunikasi dan memecahkan berbagai masalah. Hal unu dapat dijumpai pada anak-anak yang unggul dalam bidang olah raga, misalnya bulu tangkis, sepak bola, tenis, renang, basket, dan cabang-cabang olah raga lainnya, atau bisa pula terlihat pada mereka yang unggul dalam menari, bermain sulap, acrobat dan kemampuan-kemampuan lain yang melibatkan keterampilan gerak tubuh.
f. Kecerdasan Intrapersonal atau Cerdas Teman.
Memuat kemampuan seorang anak untuk peka terhadap perasaan orang lain. Mereka cenderung memahami dan berinteraksi dengan orang lain sehingga mudah dalam bersosialisasi dengan lingkungan di sekelilingnya. Kecerdasan ini disebut juga kecerdasan sosial, dimana seorang anak mampu menjalin persahabatan yang akrab dengan teman-temannya, termasuk kemampuan memimpin, mengorganisasi, menangani perselisihan antar teman, dan memperoleh simpati dari anak yang lain. Setelah dewasa mereka dapat menjadi aktivis dalam organisasi, public relation, pemimpin, manajer, direktur, bahkan menteri atau presiden (Sari, 2010:17)
g. Kecerdasan Interpersonal atau Cerdas Diri
Kemampuan seorang anak untuk peka terhadap perasaan dirinya sendiri, senang mengintrospeksi diri, mengoreksi kekurangan maupun kelemahannya dan kemudian mencoba untuk memperbaiki dirinya sendiri. Beberapa diantara mereka cenderung menyenangi kesindirian dan kesunyian, merenang dan berdialog dengan dirinya sendiri. Saat dewasa biasanya mereka akan menjadi ahli filsafat, penyair, atau seniman (Sari, 2010:18).
h. Kecerdasan Naturalis atau Cerdas Alam
Memuat kemampuan seorang anak untuk peka terhadap lingkungan alam. Misalnya senang berada di lingkungan alam terbuka seperti cagar alam, gunung, pantai dan hutan. Mereka cenderung suka mengobservasi lingkungan alam seperti aneka macam bebatuan, flora dan fauna, bahkan benda-benda di ruang angkasa. Saat dewasa mereka dapat menjadi pecinta alam, pecinta lingkungan, ahli geologi, ahli astronomi, penyayang binatang, dan aktivitas-aktivitas lain yang berhubungan dengan alam dan lingkungan.
Dengan demikian konsep Multiple Intelligences (Kecerdasan Ganda), Howard Gardner ingin mengoreksi keterbatasan cara berfikir yang konvensional mengenai kecerdasan, bahwa seolah-olah kecerdasan hanya terbatas pada hasil tes intelegensi yang sempit saja, atau hanya sekedar dilihat dari prestasi yang ditampilkan seorang anak melalui ulangan maupun ujian di sekolah belaka. Anak-anak unggul pada dasarnya tidak akan tumbuh dengan sendirinya, mereka memerlukan lingkungan subur yang diciptakan untuk itu. Oleh karena itu diperlukan kesungguhan dari orang tua dan pendidik untuk secara tekun dan rendah hati mengamati dan memahami potensi anak atau murid dengan segala kelebihan maupun kekurangannya, dan menghargai setiap bentuk kecerdasan yang berlainan (Sari, 2010:18)

2. Pengertian Kecerdasan Kinestetik

Kecerdasan kinestetik, yakni kemampuan untuk menggunakan seluruh tubuhnya untuk mengekspresikan ide-ide dan perasaan-perasaan atau menggunakan tangan-tangan untuk menghasilkan dan mentransformasikan sesuatu.  Kecerdasan ini mencakup keahlian-keahlian fisik khusus seperti koordinasi, keseimbangan, ketangkasan, kekuatan, kelenturan dan kecepatan. Howard Gardner (2001, hlm:3)
Kecerdasan Kinestetik ini penting dan bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan psikomotorik. Meningkatkan kemampuan sosial dan sportivitas, Membangun rasa percaya diri dan harga diri dan meningkatkan kesehatan. Menurut Musfiroh (2006: 69), pada saat anak berusaha melatih koordinasi otot dan gerak terjadi stimulasi Kinestetik dalam wilayah-wilayah diantaranya:
1. Koordinasi Mara dengan Tangan seperti: menggambar, menulis, mata dengan Kaki seperti melempar, menendang dan menangkap.
2. Keterampilan Lokomotor seperti berjalan, berlari, melompat, berbaris, meloncat, merayap, berguling, merangkak
3. Keterampilan Nono Lokomotor seperti membungkuk, memutar tubuh, menjangkau, merentang, mengayun, jongkok, duduk, berdiri.
4. Kemampuan mengontrol dan mengatur tubuh seperti menunjukan kesadaran tubuh, kesadaran ruang, kesadaran ritmik, keseimbangan, kemampuan untuk mengambil awalan, kemampuan untuk menghentikan gerak dan mengubah arah.
Berdasarkan paparan diatas kemampuan seseorang untuk mengkoordinasi bagian-bagian tubuh dengan otak yang berjalan sinergis dapat mencapai tujuan untuk melaksanakan sesuatu, ketika sedang berinteraksi dengan lingkungan. Ini selaras dengan pendapat Lewin (dalam Muslahudin dan Agustin 2008:81) bahwa anak-anak yang memiliki kecerdasan kinestetik yang baik akan memberikan lebih banyak kesempatan kepada anak untuk bermain dan berinteraksi dengan teman-teman sebayanya. Anak dengan kecerdasan kinestetik ini juga dapat
3. Pengertian Metode Sosiodrama
a. Metode Pembelajaran
Pendidikan memegang peran penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang berkaualitas. Oleh karena itu, pendidikan hendaknya dikelola, baik secara kualitas maupun kuantitas. Hal tersebut bisa tercapai apabila siswa dapat menyelesaikan pendidikan tepat pada waktunya dengan prestasi belajar yang baik. Prestasi belajar seseorang, ditentukan oleh berbagai faktor yang mempengaruhinya. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar seseorang yaitu, kemampuan guru (profesionalisme guru) dalam mengelola pembelajaran dengan metode-metode yang tepat, yang memberi kemudahan bagi siswa untuk mempelajari materi pelajaran, sehingga menghasilkan pembelajaran yang lebih baik.
Menurut Nana Sudjana (2005, hlm:76) metode pembelajaran adalah, “Metode pembelajaran ialah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran”. Sedangkan M. Sobri Sutikno (2009:, hlm:88) menyatakan, “Metode pembelajaran adalah cara-cara menyajikan materi pelajaran yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses pembelajaran pada diri siswa dalam upaya untuk mencapai tujuan”.
Berdasarkan definisi atau pengertian metode pembelajaran yang dikemukakan tersebut dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran merupakan suatu cara atau strategi yang dilakukan oleh seorang guru agar terjadi proses belajar pada diri siswa untuk mencapai tujuan.
Nana Sudjana (1989, hlm:78–86), mengemukan bahwa terdapat bermacam-macam metode dalam mengajar, yaitu:
Metode ceramah, Metode Tanya Jawab, Metode Diskusi, Metode Resitasi, Metode Kerja Kelompok, Metode Demonstrasi dan Eksperimen, Metode sosiodrama (role-playing), Metodeproblem solving, Metode sistem regu (team teaching), Metode latihan (drill), Metode karyawisata (Field-trip), Metode survai masyarakat, dan Metode simulasi.

Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa guru memerlukan variasi pembelajaran supaya siswa tidak bosan. Metode pembelajaran yang menuntut siswa aktif bergerak akan dapat membuat siswa dapat menyerap informasi lebih banyak dan mengembangan keterampilan kinestetiknya. Salah satu metode tersebut yaitu metode Sosiodrama (role-playing)
b. Pengertian Metode Sosiodrama
Istilah sosiodrama dan bermain peranan (role playing) dalam metode merupakan dua istilah yang kembar, bahkan di dalam pelaksanaannya dapat dilakukan dalam waktu bersamaan dan silih berganti. Namun, pada prinsipnya keduanya merupakan metode yang berbeda. Sosiodrama dimaksud adalah sebuah metode mengajar dengan mendemonstrasikan cara bertingkah laku dalam hubungan sosial  (Ahmadi, 2005, hlm:65). Pada metode bermain peranan, titik tekanannya terletak pada keterlibatan emosional dan pengamatan indera ke dalam suatu situasi masalah yang secara nyata dihadapi.
Anitah (2007, hlm:23) juga mendeskripsikan pengertian metode sosiodrama yang seirama dengan Ahmadi bahwa sosiodrama adalah salah satu bentuk mengajar yang dilakukan oleh kelompok untuk melakukan aktivitas belajar memecahkan masalah yang berhubungan dengan masalah individu sebagai makhluk sosial.
Berdasarkan dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa sosiodrama dam bermain peranan (role playing) merupakan dua istilah yang berbeda dalam metode, meskipun keduanya mengandung pengertian yang sama yaitu mendramatisasikan masalah-masalah sosial.  Hanya saja keduanya memiliki titik tekan yang berbeda-beda. Sosidrama berada pada titik tekan pendemonstasian sikap atau tingkah laku yang sesuai dengan sikap atau tingkah laku masyarakat dalam hubungan sosial. Sedangkan bermain perana (role playing) dengan menekankan pada karakter pelaku sebenarnya.
Agar dapat menghasilkan kegiatan bersosiodrama secara efektif, kemampuan guru yang harus diperhatikan untuk menunjang metode sosiodrama diantaranya:
a. Mampu membimbing siswa dalam mengarahkan teknik, prosedur dan peran yang akan dilakukan dalam sosiodrama.
b.   Mampu memberikan ilustrasi.
c.   Mampu menguasai pesan yang dimaksud dalam sosiodrama.
d.   Mampu mengamati secara proses yang dilakukan oleh siswa.
Adapun kondisi dan kemampuan siswa yang harus diperhatikan untuk menunjang metode sosiodrama diantaranya:
a.    Kondisi minta perhatian dan motivasi dalam sosiodrama
b.    Pemahaman terhadap pesan yang akan disosiodramakan.
c.    Kemampuan dasar berkomunikasi dan berperan.

c. Tujuan Penerapan Metode Sosiodrama

Dalam sebuah kegiatan, pasti terdapat suatu tujuan yang ingin dicapai. Menurut beberapa pendapat, disebutkan beberapa tujuan diadakannya sosiodrama, yaitu:
1) Ahmadi (2005 , hlm:81) menjelaskan beberapa tujuan penggunaan sosiodrama antara lain: a) menggambarkan bagaimana seseorang atau beberapa orang menghadapi suatu situasi sosial tertentu, b) menggambarkan bagaimana cara pemecahan suatu masalah sosial, c) menumbuhkan dan mengembangkan sikap kritis terhadap sikap atau tingkah laku dalam situasi sosial tertentu, d) memberikan pengalaman untuk menghayati situasi sosial tertentu, dan e) memberikan kesempatan untuk menijau suatu situasi sosial dari berbagai sudut pandang tertentu.
2) Sudjana (2002, hlm:84) juga menjelaskan beberapa tujuan yang diharapka dengan sosiodrama antara lain: a) agar seseorang dapat menghayati dan menghargai perasaan orang lain, b) dapat belajar bagaimana membagi tanggung jawab, c) dapat belajar bagaimana mengambil keputusan dalam situasi kelompok secara spontan, d) merangsang kelas untuk berfikir dan memecahkan masalah.
Dari beberapa tujuan diatas, peneliti ingin menambahkan beberapa tujuan diterapkanya metode sosiodrama dalam sebuah pembelajaran diantaranya :
1. Membangkitkan gairah belajar siswa terhadap kegiatan pembelajaran.
2. Meningkatkan potensi yang ada dalam diri siswa.
3. Meningkatkan semangat kerjasama dengan teman-temannya untuk dapat memecahkan masalah-masalah sosial.
4. Menghilangkan rasa malu pada diri siswa dan meningkatkan rasa percaya diri pada mereka.

d. Kelebihan Metode Sosiodrama

Ahmadi (2005, hlm:65) menjelaskan beberapa kebaikan dari metode sosiodrama antara lain 1) melatih anak untuk mendramatisasikan sesuatu serta melatih keberanian; 2) metode ini akan menarik perhatian anak sehingga suasana kelas menjadi hidup; 3) anak-anak dapat menghayati suatu peristiwa sehingga mudah mengambil kesimpulan berdasarkan penghayatan sendiri; 4) anak dilatih untuk menyusun pikirannya dengan teratur.
Ahmadi melanjutkan kelebihan-kelebihan sosiodrama tersebut yaitu 1) memperjelas situasi sosial yang dimaksud; 2) menambah pengalaman tentang situasi sosial tertentu; 3) mendapat pandangan mengenai suatu tindakan dalam sustu situasi sosial dari berbagai sudut (Ahmadi, 2005, hal:2)
Fikri (2009, hlm:12) juga menyebutkan beberapa kebaikan dari sosiodrama diantaranya 1) memiliki keuntungan dapat menyalurkan perasaan-perasaan atau keinginan-keinginan terpendam karena memperoleh kesempatan untuk mengekspresikan (mencurahkan) penghayatan mereka mengenai suatu problem didepan orang banyak (murid-murid); 2) untuk mengajar anaknya supaya ia bisa menempatkan dirinya diantara orang lain.
Ada kebaikan lain yang diungkapkan oleh Syaifullah (2008, hlm:22) yaitu 1) dapat berkesan dengan kuat dan tahan lama dalam ingatan siswa; 2) sangat menarik bagi siswa sehinga memungkinkan kelas menjadi dinamis; 3) membangkitkan gairah dan semangat optimisme dalam diri siswa serta menumbuhkan rasa kebersamaan dan kesetiakawanan sosial yang tinggi; 4) dapat menghayati peristiwa yang berlangsung dengan mudah dan dapat memetik butir-butir hikmah yang terkandung di dalamnya dengan penghayatan siswa sendiri; 5) dimungkinkan dapat meningkatkan kemampuan professional siswa dan dapat menumbuhkan/membuka kesempatan bagi lapangan kerja

H. Hipotesis Penelitian

Hipotesis merupakan rumusan yang harus dapat diuji kebenarannya secara empiric. Ini berarti bahwa jika hipotesis memuat konsep-konsep yang abstrak, maka konsep tersebut harus ditunjukan oleh indikatoor-indikatornya agar dapat diamati dan diukur secara empiric. Dengan demikian, hubungan antara konsep yang dinyatakan dalam hipotesis akan ditunjukan oleh hubungan antara indikatornya masing-masing. (Soehartono, I. 2011 : 28)
.
Hipotesis yang akan diuji :
1. Ho : β ≠ 0 : Tidak ada pengaruh metode sosiodrama terhadap kecerdasan kinestetik siswa dalam pembelajaran IPS.
Ha : β = 0 : Ada pengauh metode sosiodrama terhadap hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS.
2. Ho : β ≠ 0 : Tidak ada perbedaan antara kelas yang menggunakan metode sosiodrama dengan kelas yang tidak menggunakan metode sosiodrama dalam peningkatan kecerdasan kinestetik siswa dalam pembelajran IPS.
Ho : β = 0 : Ada perbedaan antara kelas yang menggunakan metode sosiodrama dengan kelas yang tidak menggunakan metode sosiodrama dalam peningkatan kecerdasan kinestetik siswa dalam pembelajran IPS.


I. Metode Penelitian

Metode kuantitatif dengan menggunakan desain penelitan kuasi eksperimen. Desain ini mempunyai kelompok control, tetapi tidak dapat berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol variabel-variabel yang mempengaruhi pelaksanaan eksperimen. Desain penelitian ini menggunakan Pre Test Post Test Control Group atau Pre Test Post Test Kelompok kontrol. Unt.uk memperoleh data dalam penelitian ini, instrument yang digunakan adalah angket dan test. Dimana dalam angket terdapat 20 soal yang nantinya akan dibagikan kepada sampel begitu pula test yang nantinya akan dibeikan kepada sampel untuk memperoleh data yang dibutuhkan.

J. Setting Penelitian

Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas IX-B SMP Negeri 9 Bandung pada semester genap tahun pelajaran 2014/2015 yang seluruhnya berjumlah 38 orang peserta didik, terdiri dari 18 orang laki-laki dan 20 orang perempuan.

K. Desain Penelitian

Desain penelitian ini menggunakan Pre Test Post Test Control Group atau Pre Test Post Test Kelompok kontrol. Desain ini melibatkan dua kelompok subjek, satu diberi perlakuan eksperimental (kelompok eksperimen) dan yang lain tidak diberi apa-apa (kelompok control), Dari desain ini efek dari suatu perlakuan terhadap variabel dependen akan di uji dengan cara membandingkan keadaan variabel dependen pada kelompok eksperimen setelah dikenai perlakuan dengan kelompok control yang tidak dikenai perlakuan.

Pre Test Post Test Control Group
Kelompok Pre-test Perlakuan Post-test
Kelas Eksperimen Q – 1 Metode Sosiodrama Q -2
Kelas Kontrol Q – 3 - Q - 4

L. Prosedur Penelitian

Penelitian yang dilakukan oleh seorang peneliti harus ditentukan dahulu metode apa yang akan digunakan, karena metode ini digunakan sebagai panduan dalam kegiatan penelitian. Pemilihan dan penentuan metode penelitian yang tepat dapat membantu dalam mencapai tujuan penelitain.
Prosedur penelitian terdiri dari beberapa tahap, yaitu:
1. Observasi lapangan
2. Tahapan persiapan
a. Menetapkan kelas yang akan digunakan
b. Memilih sampel
c. Menetapkan jenis data dan pengumpulan data
3. Tahap pelaksanaan
Pelaksanaan observasi dilakukan oleh pelaku tindakan dan dilaksanakan secara bersamaan dengan pelaksanaan tindakan dan penmgumpulan data.
M. Instrumen Penelitian
Untuk mendapatkan data dalam penelitian ini menggunakan instrument
Test
Angket

N. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan adalah:
1. Test Hasil Belajar
Tes yang mengukur apa yang telah dipelajari pada berbagai bidang studi, jenis data yang dapat diambil menggunakan tes hasil belajar (Achievement Test) ini adalah prestasi dalam belajar.
2. Angket
Angket merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan sepeangkat pertanyaan dan pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya, dimana peneliti tidak langsung bertanya jawab kepada responden

O. Teknik Pengolahan Data

Pengolahan data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan perhitungan data statistic. Tujuan dari pengolahan data ini yaitu untuk membandingkan antara kecerdasan kinistetik siswa dengan menggunakan metode sosiodama di kedua kelompok. Selain itu. Pengolahan data statistic ini ditujukan untuk mengetahui presentase dari hasil tes dan angket yang digunakan untuk memecahkan masalah.

P. Rencana Pengujian Keabsahan Data

Dalam pengujian keabsahan data ini menggunakan uji kredibilitas data, yaitu dengan perpanjangan pengamatan, meningkatkan ketekunan, triangulasi, diskusi dengan teman sebaya, meber chek, dan analisis kasus negatif.

Q. Sistematika Penelitian

BAB I Pendahuluanm
BAB II Kajian Pustaka/Landasan Teori
BAB III Metode Penelitian
BAB IV Temuan dan Pembahasan
BAB V Kesimpulan, Implikasi dan rekomendasi


























ANGKET SOSIODRAMA SISWA

Petunjuk Pengisian Angket

1. Sebelum mengerjakan, terlebih dahulu tuliskan identitas anda
a. Nama
b. Kelas
2. Pilihlah jawaban yang sesuai dengan keadaan anda dengan kriteria
SS : Sangat setuju
S : Setuju
R : Ragu-ragu
TS : Tidak Setuju
STS : Sangat tidak setuju
3. Berilah tanda (√) pada kolom yang sesuai dengan pilihan anda
4. Satu soal hanya satu jawaban
5. Semua pertanyaan berkaitan dengan metode pembelajaran yang telah diterapkan dalam pembelajaran IPS anda.

  1. Saya menjadi senang setelah belajar IPS menggunakan metode sosiodrama
  2. Metode sosiodrama membuat saya lebih betah belajar IPS di kelas
  3. Dengan metode ini suasana belajar menjadi tidak terlalu tegang
  4. Metode ini membuat saya aktif belajar
  5. Belajar dengan metode ini membuat saya lebih dihargai
  6. Dengan metode ini memberi kesempatan untuk menyelesaikan tugas didepan kelas Saya tidak senang belajar IPS meskipun diterapkan berbagai metode dalam pembelajarannya
  7. Saya menjadi sangat memperhatikan materi pelajaran IPS setelah guru menerapkan metode ini
  8. Belajar dengan metode ini membuat perhatian saya lebih fokus untuk memahami materi IPS
  9. Bagi saya apapun metode yang diterapkan tidak dapat merubah perhatian saya terhadap pelajaran IPS
  10. Metode ini membuat perhatian saya terpecah pecah
  11. Metode ini menarik ketika semua siswa harus menyelesaikan semua tugas yang diberikan guru dengan sungguh-sungguh
  12. Saya tidak peduli benar atau salah dalam mengerjakan tugas, yang penting saya sudah menjalankannya
  13. Menurut saya, bila metode ini pada semua konsep IPS, belajar IPS akan mudah dipahami
  14. Dibandingkan pembelajaran IPS yang lalu, dengan metode ini saya lebih tertarik mengikutinya





DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu dan Supriyono Widodo. (2004). Psikologi belajar. Jakarta: Alfabeta.
Ahmadi, Abu. H. (2005). Stategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia
Anitah, Sri. (2007). Strategi Pembelajaran di SD. Jakarta: Universitas Terbuka
Armstrong, T. (2002). Setiap Anak Cerdas : Panduan Membantu Anak Belajar dengan Memanfaatkan Multiple Intelligence-nya. (alih bahasa : Buntaran, R.). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Ginnis, Paul. (2008). Trik & Taktik Mengajar – Strategi Meningkatkan Pencapaian Pengajaran di Kelas. Jakarta: Indeks.
Kunandar. (2008). Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru. Jakarta: Rajawali Pers.
Ruseffendi, E.T. (2006). Pengantar Kepada Membantu Guru Mengembangkan kompetensinya dalam Pengajaran Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Bandung: Tasiro..
Slavin. 2008. Cooperative Learning. Bandung: Nusa Media.
Sobri Sutikno. (2009). Strategi Belajar Mengajar. Yogyakarta: Andi Offset.

Sudjana, N. (2002). Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Sudjana. (1989). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Suwangsi, Erna. (2006). Model Pembelajaran Matematika. Bandung: UPI Press.
Wardhani, IGAK. (2007). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Universitas Terbuka.

Baca juga : Proposal penelitian asosiatif

No comments:

Post a Comment