12/15/2015

Berkumis, berjambang, berjakun dan dipanggil "neng"

Melanjutkan apa yang telah gue tulis di post sebelumnya, kali ini gue akan bercerita tentang apa yang telah terjadi pada hari Sabtu, 12 Desember 2015. Niatnya ini akan ditulis besoknya tanggal 13, namun sayang saat proses pengetikan, perasaan dalam hati tak tertahankan, meminta didahulukan untuk dituangkan. Jadilah saat itu tidak menceritakan pengalaman, tapi malah menceritakan gebetan.*Baper mode: ON*

Seperti yang gue tulis di post sebelumnya, hari sabtu saat itu cuaca Bandung tak seperti hari-hari biasanya. Cuaca sedang cerah, karena hujan telah selesai. Hujan datang lebih awal sabtu itu, mungkin dari pagi sudah hujan, apa dari siang, gue lupa lagi tepatnya hujan mulai jam berapa, karena pada jam-jam segitu gue masih terlelap dalam mimpi yang anehnya selalu terlupakan saat gue terbangun. Apa kamu juga? Apakah ini yang disebut amnesia? Ah kayanya bukan.

Singkat cerita, gue sudah melakukan persiapan untuk beraktivitas keluar ruangan. Makan udah (check), mandi udah (check), pake jaket udah (check), hanya tinggal ngeluarin motor aja. Gue pun langsung keluarin motor dari parkiran lalu langsung tancap gas (ngeluarin motor:check), tak lupa mampir dulu ke tukang bensin 2 tax untuk mengisi cairan motor gue. Kali aja motor gue kehausan, atau kali aja kurang ion, atau mineral tubuh lainnya mungkin. #adaAQUA?

Kenapa 2 tax? Karena gue mengalami traumatic psikis yang mendalam untuk berjudi mempertaruhkan isi tanki dengan jarak menuju pom mini (pom bensin maksudnya, biar berima aja). Kisah traumatic tersebut telah gue kupas tuntas di post sebelumnya yang berjudul: Kasih tak sampai karena PDKT tak santai!

Setelah tancap gas dari kostan, saat menempuh jarak sekitar 400 meteran dari awal keberangkatan, tukang bensin 2 tax pun akhirnya ditemukan. Tempat itu terlihat mencurigakan, mengingat tak ada orang yang menunggu dan menjaga botol-botol berisi cairan berwarna kuning tersebut, yang kata gue malah mirip cairin kencing gue sendiri kalo lagi dituangkan ke botol. Iya kadang-kadang kalau ada botol dikamar, gue suka ngencingin botol. Urinoid dadakan lah.
 kalau lagi males ke kamar mandi, botol air meniral juga jadi
Kamu yang cowok pasti bilang, “kok sama, gue suka ngencingin botol juga, aqua gelas malah.” Cess dulu dong “trek.
Kuning nya mengingatkan apa gitu


Gue lantas menepi di tempat bensin 2 tax yang mencurigakan tersebut , nengok kiri-kanan tetap tak ada siapa-siapa, sampai akhirnya ada seseorang yang nyamperin dari seberang jalan. Dia berwujud bapak-bapak, sekitar umur 42 kira-kira, mungkin sih itu juga. I guess

Penampakan si Bapak kira-kira seperti ini, wajahnya dihiasi kumis tebal, berkulit sawo matang dan rambutnya khas bapak-bapak aja. Entah gaya apa gue gak tau, yang pasti bukan morrysey, mohawk atau rockabily. Pokoknya rambut khas bapak-bapak aja udah. Sonny Tulung tau? Rambutnya sejenis itu lah kira-kira. Dengan baju polo-shirt dimasukan ke dalam celana bahan warna hitam, tak lupa dihiasi gesper formal. Penampakannya persis seperti bapak-bapak pada umumnya saat pergi ke jum’atan,

Iya gue suka banget jum’atan, makannya tau gituan. Solekh yah? Crowd menjawab  “Biasa aja woy, elu pan cowok.
Kaya gini, cuman berkumis
















Setelah si Sonny Tulung berkumis selesai nyebrangnya, lantas dia bertanya
Bade sabaraha leter sep?” *gue dipanggil kasep sama dia* Ah si bapak mah bisa aja.
Satu leter aja pak.” kata gue tersipu malu.

Kita berdua saat itu benar-benar bersinergi, si bapak ngambil botol dan saringan, diwaktu bersamaan gue membuka jok motor dan membukakan tutup tanki untuknya. Mungkin tanpa sadar kita telah bertelepati dalam pikiran, mungkin kita saling membaca gesture, atau mungkin kita telah saling mengerti satu sama lain. *Ciee saling mengerti*

Singkat cerita kegiatan reffil bahan bakar telah selesai, gue tutup tangki motor dan menutup jok dengan rapat sampai terdengar bunyi “klek”. Lalu gue membuka obrolan dengan bertanya.

Sabaraha pak?” tanya gue.
8.500 neng.” Jawab si bapak

Tunggu dulu, tunggu dulu. Sepertinya ada yang salah. Dia panggil gue apa........? Sekali lagi........? Neng.........? Hah....? Eneng...........? Tidaaaak!!!!

Dia panggil gue “neng” sodara-sodara. “NENG”

Gue pun langsung berlutut ke tanah (eh aspal). Lalu teriak sekencang-kencangnya dalam nada penyesalan “Apa salah hamba ya tuhan, mengapa engkau memberikan cobaan seperti ini?” *Seketika hujan deras, disertai petir bergemuruh, gue emosi dan melampiaskannya dengan nendang motor sampai terbang, sekarang jadilah gunung tangkuban motor*

Itu cuma imajinasi sih, nyatanya gue tidak sesakti itu. Lagipula cuaca saat itu hanya mendung saja tanpa ada satupun bulir hujan yang cukup berani untuk meninju tanah.

Hmmm sepertinya ada yang salah.

*Mari kita kaji*

Neng adalah sebuah kata (semua juga tau woy). Kata ini berarti suatu penghormatan, lebih tepatnya sih suatu panggilan. Panggilan ini ditujukan untuk satu jenis kelamin saja, yaitu perempuan atau kita sebut saja "women", dan gak semua women bisa dipanggil “neng”, hanya women yang masih anak-anak sampai remaja saja yang bisa dipanggil “neng”. Udah lewat fase remaja, women sunda kemudian dipanggil “teteh” atau “teh” aja. Kalau tuaan dikit dipanggil "eceu"

Secara etimologis kalau di bahasain “neng“ itu berarti “nona”, kalau diinggrisin berarti “miss”,  kalau di rusiain berarti “мисс” (read: miss), kalau di prancisin berarti “manquer”, kalau di spanyolin berarti “señorita”, kalau di cinain berarti"思念" (read: shinian), kalau dijepangin jadi "ミス" (read:misu), kalau di koreain jadi "아가씨" (read: agassi), kalau di uzbekin jadi "kechikmoq", kalau di arabin berarti “ملكة جمال” (read: malikat jamal).

Ribet eh orang arab, kayak cewek aja. cuman 4 huruf aja bisa dipanjang-panjangin jadi 2 kata. Mentang-mentang mereka panjang-panjang. Apanya?

Gue lantas menduga-duga apa yang membuat si bapak mengeluarkan kata jahanam tersebut, mungkin karena............................................ gue terlihat kayak cabe-cabean.
Tapi ini terasa janggal, tidak mungkin dia kira gue cabe-cabean, toh gue sendirian inih, gak bawa motor bonceng tiga. Lagipula lokasi isi bensin hanya jalanan perumahan biasa, bukan track balap liar.

Apa mungkin gara-gara lihat dada? Iya dada gue rata, apa mungkin karena dada gue rata kali yah sampe dia fikir gue adalah seorang cewek remaja? Kalau nenen gue gede kayaknya si bapak bakal manggil "Teteh" atau "Eceu" kayaknya. 

Apa dayaku wahai bapak kang isi bensin, aku hanya seorang pria biasa. Nenenku tak akan bisa tumbuh sebesar Kate Upton, Scarlet Johansson atau Pamela Anderson, paling banter juga segede Jessica Veranda (member JKT48 yang dadanya datar).

Hmmm sepertinya gedein dada leh ugha, kayak binaragawan maksudnya, biar bisa digerak-gerakin gitu, menjijikan juga sih membayangkan dada laki bergerak. "Toeng, toeng, toeng"

Rencana pembesaran akan dimulai dengan memakai mini set, mudah-mudahan ngegedean. Kemudian setelah itu memakai bh size 32 A, kemudian……….....………. *eh gak deng*

Kate upton
Jesica veranda. Menemukan perbedaannya?


















Hmmm, dipikir-pikir lagi sepertinya tak adil bila menilai si bapak begitu saja. Gue kemudian teringat quotes Pramoediya Ananta di buku Bumi Manusia

Seorang terpelajar tak boleh menduga-duga. Seorang terpelajar haruslah bisa berlaku adil. Adil harus ada sejak dalam pikiran, baru kemudian dilakukan dalam perbuatan”. “Bukankah engkau seorang terpelajar Sinyo? Berlakulah adil sejak dalam pikiran selayaknya seorang terpelajar”

Ucapan tokoh Jean Marais dalam buku itu benar-benar membuatku malu telah memandang sesuatu dari satu sisi saja. Maafkan aku bapak kang isi bensin, aku telah berlaku tidak adil terhadapmu. Aku akan mengkaji ulang dan sebisa mungkin akan berlaku adil sejak dalam pikiran, baru kemudian dalam perbuatan.

*kaji ulang*

Mari kita kaji ulang, “eneng” bisa aja bukan berarti nona. Bisa aja maksud si bapak beda, cuman gue aja yang terlalu sotoy menyimpulkannya. Gak open minded banget sih aing, kayak bukan orang terpelajar aja, padahal bentar lagi sarjana.

Setelah mengingat-ngingat adegan basa (vocabulary dalam Sunda), gue menemukan arti yang lain dari kata “Neng” ini. Eureka! 

Kata “neng” atau “eneng” adalah sebuah panggilan untuk kebo yang masih kecil, atau biasa kita sebut “anak kebo”. Voila! Tapi gak mungkin juga ah si bapak ngira gue keterunan kebo, meskipun gue sukanya tidur kaya kebo sih, tapi itu hanya perilaku saja. Secara fisiologi, anatomi, jumlah kromosom apalagi DNA, gue sama kebo beda.

Daripada kebo, gue membayangkan diri gue ini kayak koala. Semakin gue doyan tidur malah  meningkatkan keimutan. FYI, gue sama koala sama-sama berwajah gemesin. *cubedh cubedh* "Sini mana pipinya!" kemudian dicubit teteh-teteh. Oh I miss

Tapi koala hanya ada di benua tetangga Australia, di Indonesia gak ada. Jadi mustahil akan ada satu kata dalam bahasa sunda yang dapat mewakili mahluk males tersebut. Palingan dengan kata resapan, itu juga biasanya sama dengan kata dari negara asalnya. Which mean bahasa sunda nya "koala" yah "koala" juga. Iya gak sih?  Fix “eneng” berarti “anak kebo” aja.

Jangan-jangan si bapak tau potensi gue yang sesungguhnya, jangan-jangan gue itu adalah reinkarnasi Hell Boy yang dikirim dari neraka menunggu dibangkitkan untuk menumpas kejahatan di dunia, atau gue adalah reinkarnasi kakak nya cu pat kay bernama Gu Moong untuk bisa menghalangi jalan tong sangcong ke barat dan mengalihkannya ke utara, supaya tong sang cong and friend jadi Hipotermia.

Gu Moong




















Bisa jadi bisa jadi, sepertinya ini adalah dugaan terbaik sejauh ini. Gue lantas cek pitak kepala gue di arah 36,7 derajat di sebelah kanan kepala.

Tapiiii setelah gue cek bagian atas kepala dengan dielus-ulus sendiri. Iya sendiri, tanpa ada kamu yang ngelusin. Jadi rindu dielusin kamu! Oh tuhan aku rindu. 

Setelah kegiatan ngelus-ngelus kepala sendiri selesai, gak ada pertanda tuh akan tumbuh tanduk di pala. Gue kira awalnya dari bagian pitak kepala gue akan keluar tanduk, tapi sampai sekarang cuman gini-aja aja. Pitak pala ini hanya memberikan efek gue males dibotakin aja. Takut pala gue dimasukin koin gopean gara-gara pitaknya disangka lobang celengan.

Oke, sepertinya gue harus membatalkan rencana menjadi pelindung bumi atau menghambat Tong Sang Cong and friend. Karena nyatanya tanduk di pala gue sampai berita ini diturunkan belum kunjung tumbuh juga.

Sepertinya gue terlalu mengandalkan ilmu linguistik dalam menduga-duga, mungkin saja problema ini hanya bisa diselesaikan dengan multidisipliner. Mungkin sebaiknya gue mengkajinya dengan ilmu sosial yang lain.

Geografi

Setelah dipikir-pikir lagi, lagipula ini daerah kota, yang dimana gedung dan aspal sudah memenuhi mayoritas lahannya. Tanah serapan air hujan apalagi sawah dan kebun sudah jarang ditemukan. Mungkin saja si bapak tak pernah tau wujud kebo seperti apa, hanya tau lewat gambar atau video saja. Ataupun kalau dia beneran tau wujud kebo, bisa saja dia tak tahu kalau anak kebo dipanggil apa. Bisa aja dia manggil anak kebo bukan menggunakan kata “eneng” untuk mewakilinya. Bisa aja dia menyebutnya “anak kebo” aja. Entahlah, semakin dipikirkan malah terasa semakin jauh dari jawaban. Coba ilmu lain.

Antropologi

Apa mungkin si Sonny Tulung berkumis bukan orang Sunda totok, dia hanya pendatang dari daerah lain. Atau bisa saja dia berdarah campuran mirip harmoine granger. Mungkin dia hanya seorang mugle biasa yang kebanyakan tak tau soal budaya di tempat tingal barunya. Eneng mungkin punya makna berbeda di daerah asalnya. Mungkin saja di daerah asalnya “eneng” adalah sebuah kata untuk mewakili pria tampan. Entahlah, sepertinya tak ada jawaban pasti kalau hanya menduga-duga, gue lebih baik mencoba mengintrospeksi diri saja.

Apa mungkin gue terlihat kurang laki?

Hmmm tidak mungkin, soalnya kumis di atas bibir gue biarkan tumbuh dengan beringas, jambang juga diantepin aja, jakun juga udah segede buah khuldi (gak tau sih buah khuldi segede apa), dada gue juga rata. Laki banget kan?

Otot juga udah berontak mau keluar dari kulit, saking pertumbuhan otot lebih cepat daripada percepatan luas kulit. *Ga deng, badan gue kerontang sebenernya* Kering bagai kemarau.

Walaupun sudah berkumis cukup tebal, gara-gara si bapak gue menyimpulkan bahwa: “Gue masih kurang laki”, gue harus tumbuhin kumis ini sebapang Adam Suseno, atau membuat kumis ini tetep pendek tapi dengan luas diseluruh permukaan wajah , kayak Adam Levine lah. Apa mungkin dicukurin aja semua biar kaya Cara de Levine. Apa sih? (kata gue muka si Cara mirip cowok, malahan feminiman Denna Akhmad)

Oke, gue harus membeli penumbuh kumis di OL shop, firdaus oil 2 liter sama wak doyok 5 liter. Sepertinya akan tumbuh cepat.

Setelah mengkonsumsi dengan rutin dan berkala, gue yakin kumis gue tumbuh lebih beringas dari ini. Seberingas kumis Arda Turan kalau bisa. Setelah memiliki janggut panjang, dan terlihat seperti Zeus gue akan menguasai dunia. Menjadi dewa di Bumi ini, pindah ke Yunani dan tinggal di gunung Olympus  nemenin Aphrodite. (Apa lagi sih)
Zeus berjanggut












Conclusion
Ini adalah artikel pertama yang ditulis secara “sok” absurd, tapi gue serius soal dipanggil eneng tersebut, gue juga serius ingin numbuhin kumis dan jambang lebih beringas dari ini. Btw setelah kegiatan isi bensin selesai, gue senyumin aja si bapak. Walau sebenernya mah ingin meluruskan apa yang telah menjadi kesalah-pahaman. Tapi tak gue lakukan karena kadangkala ada beberapa hal yang tak perlu dijelaskan, apalagi diluruskan. Biarlah tetap menjadi kesalahpahaman.

Gue hanya tersenyum lalu kemudian tancap gas enyah dari pandangan sonny tulung berkumis tsb.  "Bye kampret."

Nah nanti kalau udah berjambang, pastinya gue bakal bosen dong. nanti kalau udah bosen berpenampilan kayak Zeus, gue bakalan merubah bulu-bulu diwajah gue dengan sentuhan artistik. Pokonya ini bakal kayak seniman banget deh, dan gue jamin ini akan benar-benar menambah ke”laki”an gue. Kurang lebih kayak gini jadinya kumis gue ntar.

-

-

-

-

-

-

-

-

-
Artistik banget kan?





12/13/2015

Kasih tak sampai, karena PDKT yang tak santai

Hari Sabtu, 12 Desember 2015 cuaca di Bandung tidak seperti biasanya yang hujan deras. Hari itu hujan datang lebih awal dari biasanya, sekitar jam 11 siang sudah hujan deras, berkat itu waktu-waktu sesudahnya cuaca berubah menjadi cerah. Berhubung sore itu cuaca bisa dibilang sedang bersahabat, gue pun berniat untuk sekali-kali berkunjung ke kota sebelah. Membayar hutangku, untuk mengobati kerinduan mereka, teman-teman lama yang jarang berjumpa. Sebelum mereka terlupakan dalam pikiran, karena tak pernah ada pertemuan.

Gue pun bergegas going outside menaiki motor kesayangan, lalu menancap gas dengan beringas, saat itu jarum indikator bensin motor gue berada sangat dekat dengan huruf E warna merah. Gue pun berangkat ke tukang bensin 2 tax untuk sedikit menaikan jarum indikatornye ke huruf F (which mean Full).

Kenapa gue lebih memilih tukang bensin dua tax dibandingkan ngisi di pom bensin biasa yang dikelola pertamina? Karena pernah ada satu kejadian traumatik yang terjadi karena gue terlalu egois memilih pertamina, tanpa mempedulikan sisa bensin yang tak cukup untuk kesananya.

Gue ingat betul, kisah traumatik tersebut terjadi pada tanggal 31 Desember 2014, siangnya sebelum pergantian tahun ke 2015. Masa-masa itu adalah subuah fase pendekatan untuk mendapatkan cewek impian. Sebut saja cewek itu bernama Nadia (nama samaran). Sebelum bercerita tentang kronologis di akhir 2014. Gue awali dulu kisah ini dari pertemuan pertama di bulan sebelumnya.

Pertemuan pertama kita di bulan Novemeber 2014, diawali dengan gue maen ke kostannya, menyusuri jalanan bandung berdua kemudian makan bersama di sekitaran jalan gegerkalong girang. Ohhhh Aaai Missss 

First Impression
Fase PDKT berlangsung sebagaimana mana mestinya,. Gue merasa sudah membangun first impression dengan sempurna, karena yang penting dalam first impression adalah saling mengenal, membangun keakraban, dan membunuh kecanggungan. Dan gue berhasil, tak ada lagi canggung dalam first impression kita, Nadia bercerita semuanya, baik tentang masa lalunya, masalah hidupnya dan apa yang menjadi impiannya. Gue pun sama, dan itu membuat kita merasa lebih dekat dan saling mengerti dengan keterbukaan satu sama lain.

Waktu berjalan terlalu cepat saat itu, tak terasa jam sudah menunjukan pukul 11 melam, perbincangan di tempat makan pun diakhiri dengan gue mengantarkannya pulang. Tak lupa bersikap sok ksatria dengan memakaikan jaket gue ke  Nadia. Memang kegedean untuk badannya, tapi berhasil membuatnya nyaman dalam kehangatan. 

Malam itu sekaligus menjadi malam pertama Nadia memeluk gue dari jok belakang. Walau awalnya malu-malu, makin lama pelukannya makin erat juga.

Saat itu walau tanpa jaketpun, jalanan dingin bandung sepertinya terasa sedikit lebih hangat dari biasanya. Mungkin karena pelukan Nadia, atau mungkin karena Pemanasan Global aja? Entahlah.

Gue megembalikan Nadia ke kostannya dengan keadaan utuh, tanpa organ yang hilang. Hanya hatinya yang gue pinjem bentar, dan hati gue yang berhasil dia curi. Hmm sepertinya kita melakukan trading barter.



Njut

Second impression, 
Bila di first impression merubah kecanggungan menjadi keakraban, di second impression cowok harus membuat keakraban berubah menjadi kebutuhan. Cowok harus membuat keberadaan kita di dunia benar-benar menjadi candu untuk wanita. Beruntungnya untuk gue, tak perlu lama Nadia membutuhkan bantuan dari gue. Dia nggak nyaman sama kostannya sekarang, dan dia pengen dicariin kostan sekitaran kostan gue supaya katanya  ada yang jagain. 

FYI, dia berniat pindah kostan karena Aa Aa atau Akang-akang yang menempati bangunan depan kostannya suka godain dia bila pulang kuliah, maklum Nadia adalah sosok cewek idaman, selain dia cantik, dia juga berpenampilan menarik. Ditambah dengan rambut  hitam sedikit pirang tanpa ditutupi dengan kerudung membuat perhatian dunia teralihkan pada sosoknya. Walau ada sedikit jerawat di wajahnya, tapi tak sanggup untuk menutupi kecantikannya.

*31 Desember 2014*
Kala itu semesta seolah melakukan konspirasi untuk memuluskan hubungan gue sama Nadia, beberapa hari setelahnya, tanpa gue nyari kostan buat Nadia dengan serius. Tanpa sengaja gue lewat ke bangunan baru-jadi berjarak sekitar 15 meteran dari kostan gue, yang dimana bangunan tersebut diperuntukan untuk dijadikan kostan. Dan yang paling penting, kostan ini dibuat untuk jadi kostan putri. Belum ada penghuninya memang. Tapi gpp, toh Nadia pindahnya berjamaah dengan teman-teman nya.

Tak butuh waktu lama, gue pun segera mengirim foto penampakan bangunan beserta no telepon empunya kostan ke Nadia. Nadia senang bukan kepalang, karena mungkin dia sangat ingin segera hijrah dari kostnya sekarang, atau mungkin ingin segera berada lebih dekat dengan gue biar bisa dijagain. Ekhm
Terdengar sotoy memang, tapi itulah rasanya jatuh cinta. Jatuh cinta membuat kita menjadi terlalu sering menduga-duga.

Nadia pun lantas minta dijemput cepat-cepat, gue pun dengan beringas mengambil helm dua lalu langsung tancap gas. Singkat cerita, gue dan nadia sudah berada di calon kostan barunya. Bangunan nya terdiri dari 3 lantai, semakin ke atas berbanding lurus dengan harga semakin murah, kita menyusuri tangga untuk melihat seluruh ruangan di kostan tersebut. Perjalan ke lantai 3 sangat melelahkan, ingin sekali gue bilang "Nadiaaa, Gendooong!" tapi gak jadi karena malu, kan gue cowok.

*kembali serius*
Setelah melihat seluruh ruangan dia suka terhadap tempatnya, dia suka terhadap fasilitasnya, dia suka terhadap harganya, dan gue yakin dia pasti suka sama gue. *PEDE mode: ON*

Hanya tinggal satu yang menjadi hambatan. Dia belum mendapat restu untuk pindah kostan. Karena memang walaupun kehidupan terasa bebas saat menjadi mahasiswa, namun tetap saja masih ada intervensi orang tua di dalamnya.

Oke fix dia suka kostannya, gue pun anterin dia pulang.

Dengan sebuah kehangatan pelukan dari jok belakang, seketika isi kepala gue pun hanya ada gue, nadia dan pelukan kita. Sayangnya pelukan tersebut membuat gue melupakan satu hal krusial, gue lupa kalau saat itu indikator bensin gue ada di huruf E menandakan bentar lagi abis.

Bencana pun benar-benar terjadi, motor gue abis bensin beneran. Yah, pelukan mesra pun menjadi terlepas, obrolan hangat berubah menjadi serentetan pertanyaan, keakraban berubah menjadi kecanggungan, dan wajah cemberut Nadia membuat gue tak tau apa yang harus dilakukan. Yap saat itu gue benar-benar mati gaya.


Semesta kala itu seolah berbalik melakukan konspirasi untuk menghambat hubungan kita. Karena sejauh mata memandang, sejauh kaki melangkah, sejauh motor didorong, dan berkali-kali mulut ini melawan malu untuk bertanya. Tempat isi bensin belum kunjung untuk ditemukan. Hanya satu petunjuk dari seorang abang-abang, yang menunjukan jalan tercepat menuju pom bensin terdekat. Itu pun lumayan jauh, walau hanya jalan turunan yang ditempuh. 

Kita pun hanya saling terdiam, diiringi kaki yang semakin lelah melangkah dan disertai hujan gerimis yang membuat suasana tak lagi manis. Oh keadaan ini benar-benar menyiksa.

Seperempat jam kemudian, tukang bensin 2 tax berhasil ditemukan, dan dengan selahan berkali-kali mesin motor gue bisa dinyalakan.

Keadaan tangki bensin berhasil dikembailkan, namun sayangnya tak lagi mengembalikan pelukan dari jok belakang, tak lagi mengambalikan keakraban, dan tak lagi ada ekspresi wajah kebahagian. Gue dan Nadia menyusuri jalanan Bandung dengan diam, tanpa ada yang ingin dibicarakan. Karena kita tahu, kita berdua terjebak dalam suasana saling ketidak enakan (cangung).

Setelah mengantarkan Nadia ke kostan, beserta hatinya yang kemarin gue curi dan sekarang terpaksa harus dikembalikan. Kita saling pamit dengan "asalamualikum!", dan "walaikumsalam!". Hanya pamitan biasa, untuk pamit dengan teman biasa, tanpa disertai kalimat gombalan, ramalan khas Dilan apalagi ciuman manis di tangan. Oke gue akui, gue telah fail dalam membangun second impression kali ini.

Berhubung gue orang nya suka menduga-duga, kalau bahasa kerennya "Sotoy". Gue menduga apa yang ada diisi kepala Nadia saat kita berdua menyusuri jalanan Bandung dalam diam adalah seperti ini.

"Ngurusin motor yang tiap hari dipake aja gabisa, apalagi ngurusin aku, apalagi ngurusin hubungan kita, belum lagi mempertahankannya, belum lagi memperjuangkan restu". "Kamu menarik fal, tapi sayang belum cukup bisa diandalkan."

Itulah isi kepala Nadia kira-kira. Mungkin.

Kamunikasi kita berakhir dengan ucapan "Selamat tahun baru" diakhiri kalimat saling mendoakan di aplikasi LINE. Gue mengawali 2015, tanpa ada Nadia dan tanpa ada pelukan lagi darinya di jok belakang.

Sampai sekarang, sudah hampir satu tahun berselang dari waktu itu, sudah tidak ada lagi pertemuan. Gue hanya pernah sekali mengucap "Apa kabar?" dalam messenger apps tanpa pertemuan.  Untuk pengobat rindu, terasa lumayan.

"Nadia, kamu adalah kasih yang tak sampai, karena PDKT ku yang tak Santai"


Andai saja saat itu aku bisa sedikit lebih santai, prioritaskan isi bensin dulu sebelum ke kostan kamu. Mungkin bencana ini tak akan terjadi. Toh dari tempatku ke tempatmu, aku melewati sebuah pom bensin dulu. Itu yang deket boma. Semoga kamu tidak membaca postku kali ini, aku sungguh malu telah menjadi seorang pecundang untukmu.

Conclusion
Agak bingung sih bikin konklusi di post kali ini, karena sudah terlalu melenceng dari tujuan penulisan. Postingan kali ini, berasa terlalu nostalgia tentang percintaan. Malah melupakan tujuan utama untuk menceritakan pengalaman sama kang isi bensin. Maaf sebelumnya, mungkin karena saat mengetik, penulis terlalu terbawa perasaan.

Point is, "periksalah selalu keadaan kendaraanmu. Karena bisa jadi kegiatan yang telah matang direncangan, akan terhampat karena kurang ketelitian dalam hal sepele." Misal: isi bensin, cek busi, cek angin, cek karbu atau apalah yang kira-kira bisa jadi masalah.

P.S: Berhubung beberapa teman Messenger Apps ada yang bertanya "Apakah ini kisah nyata atau ngga?", gue tekankan "Ini benar-benar nyata, waktu dan tempa sama, kecuali nama."
F.Y.I: Saat itu gue menghabiskan malam tahun baru tak seperti biasanya. Gue menghabiskan malam itu dengan teman-teman saja. Iya mereka jomblo juga. Hingga akhirnya terbesit juga kalimat "Yeuh, Gocap pertama!" IYKWIM.
Gue menghabiskan detik pergantian tahun di kampus Bumi Siliwangi tercinta, sedikit sempoyongan memang, tapi untungnya tak ada kejadian memalukan disana.

12/11/2015

Jadi Dewasa itu Ribet, "Bahagia itu Sederhana" hanya terjadi di SMA

Hari ini kamis 9 Desember 2015 cuaca di Bandung sedang hujan deras seperti hari-hari sebelumnya. Kalau cuaca cerah, rencananya hari ini ingin bimbingan. Namun sayang, hujan memaksa niat bimbinganku mau tak mau harus di-kandas-kan. Alasannya sederhana, karena gue adalah pengendara motor, dan sudah sewajarnya pengendara motor takut hujan. Asli gue takut banget kedinginan kalo berangkat ke kampus sendirian. Iya sendirian, tanpa ada pelukan dari jok belakang. 

Pernah sih terpikir kalau hujan gini kayaknya naek gojek enak juga, kali aja selain mereka nyedian masker, mereka juga nyedian jas hujan kalo cuaca lagi gak bersahabat gini. Tapi gue dapat cerita dari temen ternyata abang gojeg gak pernah mau dipeluk. Sombong ih si abang, meni gitu banget. :(

Gue pun berakhir dengan gabut dikostan tanpa pekerjaan, dan tanpa ngerjain revisian. 

Seperti biasanya dikalau hujan, gue selalu terpikirkan masa lalu. Bila kemarin hari senin gue berfikir tentang beberapa mimpi yang berguguguran seiring berlalunya waktu, di hujan kali ini gue berfikir.
"PERNAH GAK SIH DALAM SEBUAH FASE KEHIDUPAN, GUE PERNAH NGERASAIN BENER BENER BAHAGIA?"
Kata orang bahagia itu sederhana, cukup dimasakin mie pake telor dicabein aja udah bahagia. Please lur, bahagia gak sesederhana itu. Itu mah menyenangkan namanya. Kebahagian dan kesenangan itu berbeda, yang menyenangkan belum tentu mencapai level membahagiakan. Bahagia itu berada di another level, level yang lebih tinggi dari menyenangkan. Menyenangkan hanya serpihan kecil dari kebahagiaan. Bagai planet bumi di mata matahari, bagai matahari di mata galaksi, bagai galaksi di mata semesta. Terlihat kecil dan tak berarti apa-apa. 

Setelah tenggelam dalam lamunan, terjerumus dalam angan-angan, dan terjerembab dalam ingatan masa lalu. Akhirnya gue menemukan jawabannya, fase paling bahagia dalam hidup itu adalah saat gue masih kanak-kanak. Eureka! Aku berhasil menemukan formula nya!

Saat jaman masih bocah ingusan yang sayangnya jarang beringus, gue gak mikirin apa-apa soal dunia, tak ada masa lalu dan tak ada masa depan. Hidup itu hanya "live this moment" aja udah. Pokoknya isi kepala  cuma pergi sekolah, main sama temen dan coba hal-hal baru. Hal-hal baru zaman kecil gak perlu ribet, cukup belajar sepedah sampe bisa standing, ngejar layangan sampe kecugak beling, naik pohon setinggi-tingginya sampe jatuh dan cedera hamstring sama namatin game Harvest Moon sampe kawin.

Lewat harvest moon, gue bisa dikatakan udah punya pengalaman membina rumah tangga, Sejenis magangnya rumah tungga mungkin, atau lebih tepatnya simulasi. Expert banget kan buat jadi suami? Hak hak 
Baha gia ia ia




























Namun anehnya walaupun merasa bahagia, saat kecil gue pengen banget cepet-cepet dewasa. Soalnya banyak hal-hal baru yang gak bisa dilakukan kalau gue kecil terus. Mau gak mau harus gede dulu kalo mau nyobain. Hal-hal tersebut kayak pulang malem, belajar ngerokok, niruin gaya smackdown Triple H atau merasakan tegangnya bolos sekalah.

Terkesan bandel memang, tapi gak papa. Cowok memang harus punya rasa ingin tahu. Dan gue akhirnya tau dan gue puas telah merasakan semua itu. Puas karena tahu rasanya lebih baik daripada penasaran karena takut mencoba. Tsah.

Karena saat kecil gue pengen cepet gede, jadi gak bisa dibilang masa kecil adalah masa paling bahagia dalam hidup ini, kira-kira skala kebahagian gue saat itu kira-kira 7/10. Hmmm kurang banyak.

Kemudian gue berfikir tentang 
"Adakah fase dalam hidup yang pengen gitu aja terus selamanya? Gak pengen makin gede, sama gak mau balik lagi ke masa kecil."
Setelah perenungan yang mendalam gue akhirnya mendapat pencerahan, ternyata ADAA! Viola, aku menemukan formula lainnya prof. Masa itu yaitu masa sekolah khususnya SMA. Soalnya SMA adalah transisi dalam hidup yang paling bahagia, dan bahagia masa SMA gak perlu ribet. Skala kebahagian masa SMA sekitar 9/10 lah. Ungkapan "bahagia itu sederhana" memang benar adanya pas SMA. Yang bikin SMA terasa sederhana adalah:

1. Belajarnya sederhana

Sesederhana kamu, yang menginspirasiku













Behubung gue sekarang sudah dua puluh dua tahun. I dont know but you, but im still twentytwo. Jadi sudah mengalami bedanya belajar pas sekolah sama belajar pas kuliah. Yang membedakan adalah orang yang ngasih ilmu ke kita yaitu guru atau dosen.

Saat jadi murid, pas giliran harus belajar cukup nunggu dikelas. Nanti gurunya dengan rajin nyamperin kelas satu persatu sesuai jadwalnya. Pas kuliah beda lagi, kelas menjadi bias. Giliran kita yang ngejar-ngejar dosen, dia maunya ngajar di ruangan yang mana. Ganti mata kuliah berbanding lurus dengan ganti temen kelas. Apakah ini yang disebut orang-orang hindu dengan karma? I dont think so

Sama halnya dengan remedial. Zaman sekolah dulu kalau nilai ada yang kurang, guru pada nyamperin suruh perbaikan. Murid gak perlu ribet, kita tinggal siapin alat tulis buat ngisi soal remedial. Kelar deh. So simple

Berbeda halnya sama kuliah, dulu di semester 3 sekitar tahun 2012an tepatnya. Pernah satu kali gue melewatkan pergi ke kampus, karena lagi mager abis jumatan, begah karena abis makan, didukung sama FTV yang ada Shareena Rizky nya (sekarang Shareena Delon).

Kombinasi tersebut telah sukses membuat males untuk berangkat kuliah jam 1. Gue baru ke kampus pas setengah 4 pas transisi pergantian mata kuliah satu ke mata kuliah lain. Belakangan temen-temen kelas ngabarin kalau barusan mata kuliah jam 1 itu UTS.
"Oh iya lupa, kalau akhir oktober sama awal november adalah musimnya UTS." umpatan gue dalam hati.

*Seminggu kemudian*
Gue dateng kuliah di hari jumat di jam 1 siang abis jumatan tanpa nonton FTV. Cieee solekh. Gue menanti-nanti kapan dosen ini ngasih remedian. Ternyata apa yang terjadi tak sesuai dengan dugaan , Akhir mata kuliah dosen mengakhirinya dengan biasa aja. Pamit, ucapin salam, kemudian pergi. Mungkin dia gak tau kalau ada salah satu mahasiswanya gak ikut UTS. Oke gue coba bicara perihal remedial minggu depan.

*Seminggu kemudian lagi*
Jumat selanjutnya, di akhir mata kuliah. Gue nyamperin tuh dosen ,berbicara bahwa gue belum ikutan UTS. Dia bilang "Oh kenapa gak ikut? Yaudah nanti yah,sekarang ibu harus ngajar ke kelas lain dulu." Hmm baiklah mungkin minggu depan bisa.

*Seminggu kemudiannya lagi*
Berbeda dengan minggu kemarin, kali ini gue nyamperin dia diawal mata kuliah, biar temen sekelas aja yang belajar, sedang gue bisa menikmati remedial. Gue ngomong perihal ketidak ikut sertaan gue seperti munggu sebelumnya, kali ini dia bilang "Oh kamu yang gak ikut UTS, ibu pikirin dulu kamu remedialnya gimana deh, nanti minggu depan yah ibu bikin soal dulu," "Oke" kata gue.

Berhubung waktu itu gue adalah orang yang gak mau ribet, itu adalah terakhir kalinya gue nagih UTS sama dosen. Didukung juga oleh kabar dari senior mengatakan bahwa dosen itu adalah salah satu dosen yang baik kalo ngasi nilai, jadi gue gak panik. Dan say "masa bodo" untuk remedial.

*Berminggu-minggu kemudian*
Sekitar bulan januari 2013, yaitu masa-masanya dimana nilai ditabulasi dan diupload ke ke SINO (Sistem Informasi Nilai Online), ternyata mata kuliah itu gue dapet D sodara-sodara. Cita-cita menjadi lulusan cumlaude pun harus kandas di semester 3, benar-benar merusak pencapai di semeser 1 dan 2 yang mencapai rata-rata IP  dari 3,5 lebih dikit.
Asli gue nyesel banget gak ikut UTS cuma karena keasyikan nonton Shereena Rizky. Tau gitu gue gak jum'atan deh. *Solekh ilang*


2. Lulusnya Sederhana

Untuk lulus dari SMA kita cuma butuh mengerjakan soal UN selama 4 hari, biasanya dimulai hari senen dan diakhiri hari kamis. Itu juga cuma buletin LJK aja sebulet-buletnya. Berbeda halnya dengan lulus kuliah, 4 bulan pun kadang belum cukup untuk menyelesaikannya. Skripsi lebih ribet dari buletin LJK pake pensil fabercastle. Sumpah!
Kadang gue merasa heran kenapa anak sekolah pada ngeluh soal perkara  UN.
Ada yang bilang gak sebanding perjuangan 3 tahun diukur dengan UN 4 hari!
Ada yang bilang UN cuma buang-buang uang negara!
Ada yang bilang percuma UN kalau ada kunci jawabannya!
Dan beberapa alasan-alasan klise lainnya.
Buliten sebulet-buletnya dan sehitam-hitamnya

Coba renungkan sekali lagi!

Kalian mengerjakan UN di hari yang sama dengan teman-teman, merayakan hari terakhir UN di hari yang sama dengan teman-teman dan lulus di waktu yang sama dengan teman-teman. Lalu disusul corat-coret di hari yang sama dengan teman-teman. Kemudian graduasi di hari yang sama dengan teman-teman, Kalian merasa belum cukup dengan kebersamaaan itu semua? Bukan hanya bersama, tapi kalian "berbahagia" bersama.

Berbeda halnya dengan masa kuliah. percayalah bahwa ungkapan "dunia kuliah tidak seindah dunia  FTV" itu adalah benar adanya. Bukan cuma ungkapan yang hadir hanya lewat pemikiran, tapi ungkapan itu tercipta dari sebuah pengalaman. Pengalaman pahit juga memberikan pelajaran.

Kita harus tetap fokus sama kuliah, gak boleh ada nilai jelek biar gak ditinggal teman seangkatan. Saat skripsipun sama, harus ngerjain skripsi dengan semangat empatlima supaya tidak ditinggalkan lulus duluan oleh teman seperjuangan.

Kebersamaan pas sekolah sudah terlihat bias di masa kuliah. Yang rajin dan pinter akan meninggalkan, yang males dan bego akan ditinggalkan. Pedih memang, tapi itulah kenyataan.

Kadangkala orang yang rajin dan pinter kaya gue pun, bisa ketinggalan kalau ditakdirkan susah mendapatkan waktu untuk bimbingan. Beberapa hari yang lalu gue berniat buat bimbingan, tidak seperti biasanya, yang untuk bimbingan hanya cukup dengan menunggu giliran. Hari itu gue harus punya effort lebih hanya untuk dapat bimbingan.

Kronologinya kayak gini

Gue ngerjain revisian, lalu kirim sms bikin janji. Besoknya gue samperin ke kampus kan, eh dosennya lagi keluar kota, Sorenya dosen sms katanya lagi ada dikampus, eh malah gue nya yang lagi diluar kota. Sial.
Besoknya dosen sama gue sama-sama di Bandung, kita berdua akhirnya bisa ketemu kan, taunya draft revisian nya belum gueprint, Bego.
Gue lari-lari kecil ke fotocopian buat ngeprint, eh malah flashdisk nya ketinggalan di kostan.
Gue terpaksa kan harus pulang ke kostan, Flashdisk ada, yeah. Gue mau print itu file sesegera mungkin, eh fotokopiannya udah tutup. Damn
Gue akhirnya, ikut ngeprint di kostan temen. Balik ke kampus, dosennya ngilang dari peradaban.
Gue tanya ke TU, katanya dia udah masuk kelas. Kagok negro, gue tunggin kan ampe beres ngajar di koridor kelasnya, dia kelar ngajar kita ketemu lagi eh keburu adzan ashar.
Kita akhirnya malah sholat berjamaah.
Abis sholat gue tanya"bu saya mau bimbingan!",
dia jawab "simpen dulu aja draftnya di meja ibu!"
Kan taik yak, setidaknya kerena itu gue akhirnya sholat selain maghrib. Ada hikmah di setiap perbuatan *Solekh mode: ON*

Itulah ribetnya masa kuliah nak, buletin LJK doang mah bukan apa-apa.
Semangat revisian

3. Kerennya Sederhana

Bagi anak SMA, keren itu sederhana. Buat yang cewek, cukup dengan pake rok dan baju yang kekecilan, pake tas anak SD atau tas tante-tante sekalian (nggak boleh tas anak sekolah), udah jadi gaul. Jangan lupa rambut belah tengah, di warnain dikit kalo perlu. Jangan contras tapi
Nah ini cewek keren, bajunya ngatung. Tau ngatung?

Buat cowok keren juga sederhana, cukup dengan baju dikeluarin, celana yang nggak boleh gombrang (bisa pencil atau boot-cut), dan tentu saja bagi sebagian besar kalangan, harus ngerokok. Cukup gitu aja, itu udah berasa keren.

Intinya, waktu SMA, keren itu mudah, tinggal melanggar peraturan. Kata sekolah harus pake baju yang longgar, pakelah baju yang kekecilan. Kata sekolah rambut harus pendek, gondrongkanlah. Kata sekolah di kantin harus bayar, ngutanglah. Kata sekolah harus bayar SPP, jajankanlah. Kata sekolah harus datang jam 7, datang siangan dikitlah, Kata sekolah gak boleh keluar wilayah sekolah, manjat pagerlah.

Pas kuliah juga bisa sih kayak gitu. Tapi bedanya, masa kuliah semua perbuatan ditanggung pelakunya sendiri. Di beberapa kampus ada yang ngewajibin pake pakaian/seragam tertentu. Di kampus gue biasanya jurusan perhotelan, pariwisata, perkantoran, manajemin bisnis, dan beberapa jurusan lainnya ngewajibin pake seragam. Kalau nggak nurutin, ya nggak boleh masuk, bahkan bisa sampai dikasih surat peringatan, bahkan bisa juga di-DO gara-gara itu. Yang membedakan jelas: pemakluman. Nggak ada lagi pemakluman saat sudah bukan lagi anak sekolahan.

Dibeberapa kasus, kuliah memberikan kebebasan. Boleh gondrong, boleh celana kekecilan, boleh bolos (gak boleh sih, tap gak dicariin ini). Gak masuk kuliah berminggu-minggu juga gak akan dipanggil guru BP, apalagi panggil orang tua, dan banyak hal yang terlihat memberikan kebebesan lainnya.

Tapi walau rambut udah dipanjangin sampe sepanjang jalan kenangan, pake celana ketat seketat strategi chelsea lagi parkir bus atau bolos berminggu-mingu pun tetap berasa tak ada artinya.

Kenapa? Karena sudah tidak ada lagi yang namanya Element of Danger disana. Tsah

Jadi intinya gue udah melaui masa SMA dengan keren, sekarang udah bukan waktunya lagi melanggar peraturan. hahahaha *kepedean*
"Tidak apa-apa sesekali merasa hebat, karena zaman sekarang orang-orang rela bayar motivator cuma biar pede"
Berbeda halnya pas gue udah dewasa. Mungkin orang-orang menilai kekerenan orang-orang dari foto IG nya, setelan OOTD nya, atau TOYS nya,  atau jumlah gunung yang dipanjatnya. Namun buat gue ini bukan indikator deh. Mereka hanya lebih punya selera, dan mungkin lebih tau yang dimau karena sudah nemu passion nya.

Gue gak lagi memandang kekerenan seseorang diukur dari seberapa banyak peraturan yang dilanggar. Gue sekarang memandang orang yang keren itu adalah mereka yang punya rencana. Seseorang yang nggak terlalu “let it flow"aja,  “gimana nanti deh”, atau “nikmatin aja dulu”.
Mereka yang keren adalah mereka yang bukan cuma berencana tapi berusaha. Rencana bukan hanya ada dalam lamunan, tapi rencana yang dianalisis jalannya, di-breakdown langkah-langkah menuju ke sananya, dan diyakini serta diterapkan dalam kehidupannya.

Dan sayang nya sekarang gue masih tergolong golongan orang yang "let it flow" aja. Oke fix gue sekarang belum keren. Kalo kamu? udah keren belum.


4. Nongkrongnya Sederhana

Waktu SMA juga, untuk nongkrong, khususnya buat yang anak cowok, rasanya nggak pernah sampe ngorogoh kocek sama sekali. Cukup dengan ngumpul di pinggir jalan setelah bel pulang sekolah, itu udah termasuk kategori nongkrong. Literally nongkrong. Nongkrong dalam arti sebenarnya

FYI  Nongkrong = Jongkok.

Jongkok di pinggir jalan, di depan warung. Beberapa ada yang ngerokok, beberapa lainnya ada yang cuma ikut-ikutan ngerokok. Kopinya nggak perlu yang seharga puluhan ribu sampe harus puasa seminggu, tapi cukup beli yang di warkop, segelas doang diminum rame-rame. Kadangkala Es kelapa muda juga bisa jadi pengganti. Dulu gak perlu harus difoto dan upload fotonya di Path dan Instagram, hidup lebih sederhana tanpa harus pamer.
Nongkrong = Jongkok
















Sederhana bukan?


5. Pertanyaan nya sederhana

Hidup kita sebagai makhluk sosial menuntut kita untuk berkomunikasi. Selain untuk memunuhi kebutuhan sosial sendiri, komunikasi kadang-kadang berakhir dengan sebuah ekspektasi. Baik ekspektasi kita terhadap orang lain, atau ekspektasi orang lain terhadap kita.
Ekpektasi orang lain itu, sejenis apa yang mesti kita capai untuk memenuhi harapan mereka, iya mereka, orang-orang sekitar kita. Biasanya ekspektasi mereka selalu diawali dengan kata "kapan?"

Pas sekolah ditanya "kapan lulus?", udah lulus ditanya "kapan kuliah?", udah kuliah ditanya "kapan skripsi?", udah skripsi ditanya "kapan wisuda?", udah wisuda ditanya "kapan kerja?", udah kerja ditanya "kapan nikah?", udah nikah ditanya "kapan punya momongan?", udah ada anak masih ditanya "kapan nambah?". Pokok nya hidup ini penuh dengan pertanyaan "Kapan?" padahal dalam hati mereka isinya bukan "KAPAN?", tapi "CEPETAN!"

Saat SMA palingan ditanya kapan lulus sama mau kuliah kemana? Iya gak? Jawab aja seadanya, kalau kamu kelas dua, jawab aja setahun setengah lagi. Kalau udah kelas tiga jawab aja nanti bulan Mei. Maybe yes maybe no
Kalau ditanya mau kuliah kemana? jawab aja universitas yang kamu incer yang belum temtu diterima itu. Kalau gue sih, waktu sekolah dulu ditanya gini, gue jawab "mau ke UNPAD" dengan parlente.

Anak 90 pasti di socmednya bertebaran undangan, wedding, atau foto anak baru lahir















Udah lulus sekolah, barulah ladang gandum dihujani hujan coklat  pertanyaan lainnya yang makin sulit dijawab saling bermunculan. Pertanyaan yang sulit yaitu:

(1) "Kapan Kuliah?" gue bilang sulit karena nyatanya banyak yang gak seberuntung gue keterima lewat SNMPTN, mereka ada yang merogoh kocek untuk jalur Ujian Masuk ada yang beralih ke Universitas Swasta.

(2) "Kapan Wisuda?" terbukti dari masih berserakannya mahasiswa tingkat 5 dikampus-kampus di Indonesia, termasuk gue salah satunya. Bahkan kadang-kadang ada mahasiswa yang udah masuk kategori semester dua digit. You know lah, semester 10 keatas maksudnya.

(3) "Kapan Kerja?" sulit sebab katanya "pertambahan jumlah lulusan, tidak sebanding dengan pertambahan lapangan pekerjaan", toh buktinya banyak kan sarjana yang udah lulus jadi pengangguran. Sepertinya gue bakal seperti itu ntar.

(4) "Kapan Nikah?" Walau orang-orang bilang kalo ditanya gini tinggal jawab "Kalo ga minggu yah sabtu." Tapi kenyataanya tak sesederhana itu. Gue yakin orang yang sudah berumur 25 keatas dan masih memiliki predikat jomblo, pasti disetiap malam menjelang tidur otak mereka akan berfikir:

"Kok gue ngerasa ada yang kurang yah, padahal kerjaan ada, uang ada. Cuma pacar aja yang belum, inikah rasanya kesepian? Diantara beberapa hati yang pernah mampir, hampir semuanya berlalu begitu saja. Entah perkara bosan, ketidakpastian, bahkan perbedaan keyakinan, semua berujung dengan ketidakjelasan keadaan.
Sotoy sih ini mah. Hahahaa

(5) "Kapan punya anak?" Walau kenyataanya buat anak itu (katanya) gampang, tapi ngebesarin anaknya itu loh yang susah. Bukan perkara membuatnya, tapi kesiapan mental sama finansial untuk bertanggung jawab membesarkannya. 

Jadi kamu lagi dipusingin pertanyaan yang mana? Aku sih baru dipusingin kapan wisuda? Bentar lagi juga ditanya kapan kerja?

6. Cinta nya sederhana


Masa SMA itu adalah masa yang mudah.

Motor gak sengaja sebelahan di parkiran aja udah ngerasa jodoh.

Nggak sengaja baris deketan pas upacara aja ngerasa udah jadi belahan jiwa

Absen atas-bawah udah ngerasa kita nggak akan terpisahkan.

Ditunjuk guru untuk jadi teman sekelompok aja udah merasa ditakdirkan bersama.

Diajak ketemuan dikantin aja, berasa diajak ke pelaminan.

Study tour duduk sebelahan aja, berasa ini adalah bulan madu kita

Ya, memang. Masa SMA adalah masa paling mudah, bagi sebagian orang, SMA adalah masa paling indah.
Dulu masih terlalu kecil untuk "Galih dan Ratna", sekarang udah cukup besar untuk "Bara dan Felin"















Waktu SMA, untuk dapet pacar, simple banget. Cukup ikut ekskul yang keren, bawa motor dari duit bokap, punya jokes yang berhasil bikin dia ketawa. Kalau udah gitu, modal teh botol sama ngebaso bareng udah bisa jadian. 

Beda banget sama kehidupan selepas SMA. Untuk dapet pacar, kalau motor doang, apalagi cuma   matic, kadang nggak dilirik sama sekali, kalah sama yang bawa mobil (punya bokap juga).

Apalagi untuk dapat pacar selepas kuliah, harus punya kerjaan yang bagus, harus punya rencana masa depan, dan harus merhatiin keluarga dan asal-usul "calon" kita. Belum lagi berantem karena timpangnya kesibukan. Belum lagi soal jarak. Belum lagi soal beda agama. Belum lagi soal restu.

"Urusan cinta juga akan semakin rumit seiring bertambahnya usia"


Kesimpulan

Ah, ini semua hanya untuk mengenang saja. Namun memang, kita tidak bisa senang-senang terus. Semakin dewasa, semakin banyak yang harus dipikirkan dengan matang, semakin harus bisa melihat ke depan. Karena kita tidak mau kalau hidup berjalan seperti ini saja. Aku sih ingin lebih.

Memang masa SMA adalah masa yang bahagia, tapi percayalah tak sebahagia itu. Memang indah untuk dikenang, tapi sayangnya umur tak bisa dikembalikan.

Aku percaya selain masa SMA ada fase kehidupan di masa depan yang lebih bahagia dan akan  lebih sering menjadi kenangan. Fase awal berumah tangga misalnya, fase punya anak pertama, fase liburan keluarga kecil kita, fase sudah memenuhi ekspektasi orang tua, dan fase-fase lainya dalam kehidupan yang kita semua cita-citakan.

Bahagia itu sederhana pas SMA, tapi bahagia itu tidak terlalu rumit juga pas dewasa. Intinya asal kita punya mimpi, angan-angan, khayalan, cita-cita yang terwujudkan. Kebahagiaan pun akan datang mengisi hati menjadi penuh warna. Jadi berusahalah menjadi orang yang lebih baik, bukan hanya biar kamu bahagia, tapi agar membuat orang disekitarmu bahagia juga.

Karena bahagia bersama lebih menyenangkan daripada bahagia sendirian




12/08/2015

Mimpi berubah seiring berlalunya waktu


Akhir-akhir ini cuaca selalu terlihat tampak pucat. Sudah satu bulan lamanya cuaca seperti ini terus berlangsung. Kadang dikala hujan sedang deras-derasnya, sesekali gue memandangi keluar jendela, berdiam sebentar sambil melihat bulir-bulir air yang jatuh tak karuan, kemudian syahdunya hujan membuatku teringat tentang sebuah impian. Impian lama yang kini sudah mulai terlupakan.

Gue langsung berpikir tentang filosofi hidup. Orang-orang mungkin berfikir bahwa rokok, gele dan psikotropika lainnya adalah hal yang paling bisa mendatangkan inspirasi dan membangun kreativitas, tapi buat gue hujan lah yang membuat otak ini berfungsi untuk mengingat masa lalu. Entah kenapa datang nya hujan sejalan dengan hadirnya ingatan masa lalu, mungkin banyak hal indah yang telah gue lewati di masa lalu bersama mantan hujan. Hujan membangkitkan kenangan tentang diri sendiri, keluarga, teman dan gebetan bahkan masa depan pun suka kepikiran seiring dengan hadirnya hujan.



Pada hujan hari ini, Senin 7 Desember 2015 gue bergegas mengambil laptop diruang tamu. Dan meletakkannya di atas paha, posisi tetap didekat jendela. Namun ketika gue sedang menghadap di layar, selalu saja begini. Kenangan-kenangan yang berada di sekelibat pikiran tadi, entah kenapa, sulit sekali dituangkan kedalam sebuah postingan. Tetapi gue yakin, pasti banyak orang  hebat pernah merasakan juga hal yang sama; Stuck.

Dan seperti biasanya, ketika kejadian itu menghampiri, gue biasa melakukan ritual ‘Rock n’ Roll’.
Menyelipkan sebatang rokok ke bibir, mengambil pemantik di saku celana, lalu menyalakannya.

Seketika ide  pun muncul dengan beringas.

Mengingat masa lalu. Rifal Nurkholiq adalah, seorang yang dahulu tidak menyukai hal-hal yang berkaitan dengan masa depan. Entah kenapa berfikir tentang masa depan membuat gue takut untuk menjalani hidup dengan santai. Mungkin gue adalah salah satu orang yang memiliki Chronophobia (berlalunya waktu), Atychiphobia (kegagalan), atau Gerascophobia (tua). Entahlah, mungkin gue sedang dalam tahap yang hanya ingin live this moment aja
Mungkin inilah yang orang-orang sebut sebagai zona nyaman.

Saat kecil dulu bila ada orang lebih tua bertanya-tanya tentang cita-cita, gue dengan gagahnya bilang ingin jadi dokter, pilot, insinyur atau ilmuan (saat itu gue belum tahu insinyur itu kerjaan nya ngebuat bangunan). Terdengar kepedean memang, tapi percayalah kawan-kawan dahulu kala gue salalu masuk 3 besar saat SD, mengkin inilah yang dinamakan jenius sejak kecil. Namun sayang kejayaan masa SD haruslah berakhir, walau pelajaran SMP sebenarnya gampang dimengerti, tapi aljabar dan istilah latin merubah segalanya. Saat itu cita-cita menjadi insinyur gugur dengan naas nya karena gue gak mau lihat kombinasi huruf dan angka disatukan dengan tanda sigma. Oh tuhan mengapa Issac Newton bisa sedangkan aku tidak. Argh 

Beranjak SMA keadaan pun tak kunjung membaik, pelajaran favorit saat SMP pun terlihat menjadi sulit ditandingi oleh otaku ini. Cita-cita menjadi ilmuan, dan dokter pun jadi cita-cita selanjutnya yang berguguran. Saat SMA dulu otak gue isinya cuma ada hal-hal gila cenderung negatif. Yang saat itu (sekitar 2008-2011an), dianggap keren oleh gue sendiri sebagai orang yang menilai tingkat  kekerenan terhadap orang-orang lain didunia. Memang. Di zaman gue, sesuatu hal negatif menjadi tolak ukur kemachoan seorang lelaki. 

Tujuannya hanya satu, hanya pengen jadi bandel aja. Toh memang cowok sedari kecil dilahirkan menjadi bebal. Dulu waktu kecil, orang tua gue mewanti-wanti jangan coba naik pohon depan rumah, nanti jatuh. Apakah gue nurut? Enggak. Gue dkk pun menaiki pohon dengan beringas dan benar saja, ujungnya jatuh. Menyerah? Tidak. gue mencoba naik lagi kedua kali, lalu jatuh lagi. Begitu terus ampe beranjak remaja, dan mulai tumbuh bulu dimana-mana.

Bukan karena kami para cowok gak percaya orang tua, sebenarnya karena kamu harus membuktikan sendiri apa yang diwanti-wanti. Bukan kah pengetahuan diambil dari pengalaman, dan semakin banyak pengalaman berbanding lurus dengan semakin banyak kesalahan. Dengan kata lain banyak melakukan kesalahan sejalan dengan bertambahnya pengetahuan (ilmu). Itulah logika yang selama ini gue pegang teguh.
Meskipun begitu, sampai detik ini, gue masih memegang  prinsip, ‘Bandel boleh, bego jangan.’

Dan sampai suatu saat, gue menyadari satu hal. Kebandelan yang gue lakukan rasanya tidak balance sehingga menjurus pada suatu pembodohan. Kalau terlalu berlebihan begini, justru lama-lama gue bisa jadi ‘gila’ benaran. Ya, buat apa hidup di dunia fana ini, bila yang sering gue lakukan hanya kesalahan-kesalahan itu mulu. Mungkin saja, gue akan berakhir dengan predikat manusia kebosanan. atau manusia tanpa tujuan. Kasihan

Tak mau itu terjadi, akhirnya gue mencari hal bisa membuat hidup ini menjadi lebih baik. Yap, masuk universitas negeri adalah jawaban yang paling logis untuk dapat berhasil walau dengan otak yang masa jayanya telah kadaluarsa ini. Gue pun saat lulus berniat masuk UNPAD jurusan hukum, sama UPI sebagai pilihan kedua. Jurusannya apa yah gue lupa, oh Pendidikan IPS (jurusan gue sekarang) saat itu gue asal klik sebetulnya,karena memang gue begitu yakin orang berkualitas seperti gue punya peluang menjadi apapun dan berhasil di career apapun."Lah jangankan UNPAD, UI atau UGM pun bakal nerima gue, cuman sayang kejauhan aja,"

Ternyata gue salah, perasaan gue ke UNPAD hanya bertepuk sebelah tangan, UPI malahan yang dengan baik hati mau menerima gue yang cuma segini adanya sebagai mahasiswanya. Cita-cita saat kecil pun sudah tak bisa lagi diharapkan, satu-satunya yang tersisa hanyalah menjadi pilot. Namun sayangnya pas gue SMA, banyak kejadian Lion Air dan Adam Air yang jatuh meninggalkan banyak korban jiwa. Ditambah Sukhoi yang nabrak gunung salak, semakin menguatkan gue bahwa menjadi pilot adalah pekerjaan yang mengorbankan nyawa. Oh tuhan aku belum siap untuk mengambil resiko meninggal tiba-tiba menabrak buah salak segede gunung.

Hmmm sepertinya profesi sebagai guru terlihat leh ugha. 

Iya guru, profesi yang selalu kalian sebagai murid selalu di ceng-cengin. Profesi yang kalo lagi jelasin, selalu kalian gak perhatiin. Profesi yang selalu kalian sepelekan.
Walau demikian profesi ini amat berperan penting terhadap kehidupan.
Tau gak kenapa pas kita sekolah, ngobrol (cewe:gosip) saat guru nerangin lebih seru dibanding ngobrol biasa? Mengapa makan dikelas pas ada guru lebih enak daripada pas makan dijam istirahat? Mengapa  mainin hp saat guru bicara lebih asyik daripada saat sendiri gak ada siapa-siapa? Atau saat lama-lamain permisi misalnya?

Hmmm sepertinya masih menjadi misteri sampai sekarang, apa hanya perasaanku saja?

Jadi gue menyimpulkan, jadi guru bukan hanya berbagi ilmu soal pelajaran. Tapi juga memberikan pengalaman bagi siswa bagaimana serunya melakukan sesuatu secara diam-diam. Bagaimana asyiknya makan dikelas sembunyi-sembunyi biar gak ketahuan, bagaimana tegangnya saat harus sms panjang lebar saat bertengkar sama pacar sedangkan mata harus tetap memandang kedepan. Untung pada masa itu tombol qwerty belum terlalu mainstream seperti sekarang, gadget jaman dulu, huruf diketik oleh angka 2-9, tanda baca angka 1 dan spasi angka 0. SMS sambil merem juga gua sanggup.

Kesimpulannya, karena guru jua masa sekolah menjadi terasa menyenangkan.

Alasan lain kenapa gue mau kuliah di UPI salah satunya adalah karena masa sekolah adalah masa yang paling menyenangkan dan paling penuh kenangan. Mungkin dengan melihat murid-murid gue nanti, gue bisa membayangkan bagaimana Rifal muda menikmati kehidupan. Oh tuhan, masa-masa itu sungguh penuh kenangan.

Ok fix, jadi guru adalah cita-cita gue sekarang. Moga aja besok-besok gak berubah lagi kayak cita-cita lainnya yang telah berguguran.
Selain ilmu pengetahuan, gue akan mengajarkan murid-murid tentang komunikasi, toleransi dan penetrasi  persepsi. Im so exited.

Oh iya hari ini anak sekolah mulai UAS yah, selamat mengerjakan soal-soal yah dedek-dedek. Udah gausah serius amat nape, ada remedial ini. Bye.

Foto SMA pelajaran Fisika. Guruku yang namanya lupa lagi siapa, pelajaranmu membuatku lebih bego dari biasanya.


12/02/2015

Catatan Seorang (Calon) Wisudawan

Wisuda, menurut mereka wisuda adalah sebuah transisi, sebuah transisi yang merubah status seorang mahasiswa menjadi seorang sarjana. Bagaikan dua sisi mata uang, wisuda memberikan efek yang saling berlawanan satu sama lain. Disatu sisi wisuda memberikan kebahagiaan karena menandakan keberhasilan dari sebuah perjuangan, disisi lain wisuda memberikan ketakutan  tentang bagaimana jadinya masa depan nanti saat kita mulai masuk ke dunia pekerjaan. 

Aku tak terlalu suka membahas wisuda, karena membahas wisuda belum pantas olehku yang belum pernah merasakannya. Aku hanya akan terlihat seperti seorang bocah 5 tahun yang mencoba berperilaku seperti orang dewasa. Memang bisa, tapi tanpa pengalaman, perspektifku hanya terlihat seperti orang yang sedang terdiam dalam lamunan, mencoba menerawang masa depan dan malah hanya terjerumus dalam angan-angan.

Wisuda bagiku hanyalah sebuah acara seremonial, merayakan apa yang telah berhasil kita perjuangkan. Bahagia rasanya bila menjadi seorang wisudawan, namun sayang kedewasaan membuat sebuah seremonial lebih rumit daripada saat kita berusia lebih muda. Di usiaku yang sudah menginjak 22, aku sekarang sudah bisa dikatakan dewasa. Dunia akan terasa 12 kali lipat lebih rumit saat kita dewasa. Karena menjadi dewasa membuat aku menentut diriku sendiri untuk mandapatkankan pencapaian. Saat aku kecil aku hanya bisa bermimpi, namun saat dewasa beda lagi, aku ingin mimpiku saat kecil benar-benar terjadi. Harus cepat-cepat dieksekusi, karena aku terus menua di setiap hari-hari yang akan kulewati.

Untuk orang dewasa, setiap seremonial haruslah terasa sempurna. Semua faktor yang mencirikan kesempurnaan saat wisuda, harus ada di hari itu. Bagiku, tanpa terkecuali.

Mungkin perspektifku yang salah, mungkin aku hanyalah anak muda yang menuhankan gengsi diatas segalanya. Tapi memang begitukah seharusnya pemikiran seorang anak muda bukan? Sudah sewajarnya memiliki jiwa muda yang tak ingin terkalahkan oleh orang lain. Mungkin tersaingi terasa menyenangkan karena membuatku lebih termotivasi, tapi tidak begitu halnya dengan terkalahkan.

Bagaimana supaya aku menjadi pemenang? Bagaimana supaya aku menjadi orang yang paling bahagia saat menjadi seorang wisudawan? Entah dimana aku akan menemukan jawaban. 
Aku hanya tau aku adalah orang yang memuja prinsip kesempurnaan, bagiku semua faktor yang mencirikan suatu pencapaian harus aku dapat di hari nanti saat aku menjadi seorang wisudawan. 

Entah hanya aku saja atau kalian juga berfikiran sama, tapi aku menyimpulkan hal-hal yang mencerminkan suatu pencapaian yang harus aku raih sebagai (calon) wisudawan, adalah keberhasilan dalam meraih pendidikan, pekerjaan dan percintaan dalam waktu (hampir) bersamaan. Mungkin hanya tiga saja, telihat sederhana memang, tapi sungguh terasa sulit rasanya untuk mewujudkan semuanya menjadi kenyataan. Untungnya aku sudah mencapai salah satunya, yaitu meraih pendidikan. Tapi bagaimana dengan pekerjaan dan percintaan? Mereka berdua adalah PR besar dalam sebuah mimpi yang harus cepat-cepat diwujudkan, 

Aku tak ingin wisudaku berakhir dengan ketidaksempurnaan. Oh tuhan, sepertinya aku terlalu cepat dewasa? Atau mungkin aku terlalu cepat sarjana? Entahlah.

------------------------------------------------