12/11/2015

Jadi Dewasa itu Ribet, "Bahagia itu Sederhana" hanya terjadi di SMA

Hari ini kamis 9 Desember 2015 cuaca di Bandung sedang hujan deras seperti hari-hari sebelumnya. Kalau cuaca cerah, rencananya hari ini ingin bimbingan. Namun sayang, hujan memaksa niat bimbinganku mau tak mau harus di-kandas-kan. Alasannya sederhana, karena gue adalah pengendara motor, dan sudah sewajarnya pengendara motor takut hujan. Asli gue takut banget kedinginan kalo berangkat ke kampus sendirian. Iya sendirian, tanpa ada pelukan dari jok belakang. 

Pernah sih terpikir kalau hujan gini kayaknya naek gojek enak juga, kali aja selain mereka nyedian masker, mereka juga nyedian jas hujan kalo cuaca lagi gak bersahabat gini. Tapi gue dapat cerita dari temen ternyata abang gojeg gak pernah mau dipeluk. Sombong ih si abang, meni gitu banget. :(

Gue pun berakhir dengan gabut dikostan tanpa pekerjaan, dan tanpa ngerjain revisian. 

Seperti biasanya dikalau hujan, gue selalu terpikirkan masa lalu. Bila kemarin hari senin gue berfikir tentang beberapa mimpi yang berguguguran seiring berlalunya waktu, di hujan kali ini gue berfikir.
"PERNAH GAK SIH DALAM SEBUAH FASE KEHIDUPAN, GUE PERNAH NGERASAIN BENER BENER BAHAGIA?"
Kata orang bahagia itu sederhana, cukup dimasakin mie pake telor dicabein aja udah bahagia. Please lur, bahagia gak sesederhana itu. Itu mah menyenangkan namanya. Kebahagian dan kesenangan itu berbeda, yang menyenangkan belum tentu mencapai level membahagiakan. Bahagia itu berada di another level, level yang lebih tinggi dari menyenangkan. Menyenangkan hanya serpihan kecil dari kebahagiaan. Bagai planet bumi di mata matahari, bagai matahari di mata galaksi, bagai galaksi di mata semesta. Terlihat kecil dan tak berarti apa-apa. 

Setelah tenggelam dalam lamunan, terjerumus dalam angan-angan, dan terjerembab dalam ingatan masa lalu. Akhirnya gue menemukan jawabannya, fase paling bahagia dalam hidup itu adalah saat gue masih kanak-kanak. Eureka! Aku berhasil menemukan formula nya!

Saat jaman masih bocah ingusan yang sayangnya jarang beringus, gue gak mikirin apa-apa soal dunia, tak ada masa lalu dan tak ada masa depan. Hidup itu hanya "live this moment" aja udah. Pokoknya isi kepala  cuma pergi sekolah, main sama temen dan coba hal-hal baru. Hal-hal baru zaman kecil gak perlu ribet, cukup belajar sepedah sampe bisa standing, ngejar layangan sampe kecugak beling, naik pohon setinggi-tingginya sampe jatuh dan cedera hamstring sama namatin game Harvest Moon sampe kawin.

Lewat harvest moon, gue bisa dikatakan udah punya pengalaman membina rumah tangga, Sejenis magangnya rumah tungga mungkin, atau lebih tepatnya simulasi. Expert banget kan buat jadi suami? Hak hak 
Baha gia ia ia




























Namun anehnya walaupun merasa bahagia, saat kecil gue pengen banget cepet-cepet dewasa. Soalnya banyak hal-hal baru yang gak bisa dilakukan kalau gue kecil terus. Mau gak mau harus gede dulu kalo mau nyobain. Hal-hal tersebut kayak pulang malem, belajar ngerokok, niruin gaya smackdown Triple H atau merasakan tegangnya bolos sekalah.

Terkesan bandel memang, tapi gak papa. Cowok memang harus punya rasa ingin tahu. Dan gue akhirnya tau dan gue puas telah merasakan semua itu. Puas karena tahu rasanya lebih baik daripada penasaran karena takut mencoba. Tsah.

Karena saat kecil gue pengen cepet gede, jadi gak bisa dibilang masa kecil adalah masa paling bahagia dalam hidup ini, kira-kira skala kebahagian gue saat itu kira-kira 7/10. Hmmm kurang banyak.

Kemudian gue berfikir tentang 
"Adakah fase dalam hidup yang pengen gitu aja terus selamanya? Gak pengen makin gede, sama gak mau balik lagi ke masa kecil."
Setelah perenungan yang mendalam gue akhirnya mendapat pencerahan, ternyata ADAA! Viola, aku menemukan formula lainnya prof. Masa itu yaitu masa sekolah khususnya SMA. Soalnya SMA adalah transisi dalam hidup yang paling bahagia, dan bahagia masa SMA gak perlu ribet. Skala kebahagian masa SMA sekitar 9/10 lah. Ungkapan "bahagia itu sederhana" memang benar adanya pas SMA. Yang bikin SMA terasa sederhana adalah:

1. Belajarnya sederhana

Sesederhana kamu, yang menginspirasiku













Behubung gue sekarang sudah dua puluh dua tahun. I dont know but you, but im still twentytwo. Jadi sudah mengalami bedanya belajar pas sekolah sama belajar pas kuliah. Yang membedakan adalah orang yang ngasih ilmu ke kita yaitu guru atau dosen.

Saat jadi murid, pas giliran harus belajar cukup nunggu dikelas. Nanti gurunya dengan rajin nyamperin kelas satu persatu sesuai jadwalnya. Pas kuliah beda lagi, kelas menjadi bias. Giliran kita yang ngejar-ngejar dosen, dia maunya ngajar di ruangan yang mana. Ganti mata kuliah berbanding lurus dengan ganti temen kelas. Apakah ini yang disebut orang-orang hindu dengan karma? I dont think so

Sama halnya dengan remedial. Zaman sekolah dulu kalau nilai ada yang kurang, guru pada nyamperin suruh perbaikan. Murid gak perlu ribet, kita tinggal siapin alat tulis buat ngisi soal remedial. Kelar deh. So simple

Berbeda halnya sama kuliah, dulu di semester 3 sekitar tahun 2012an tepatnya. Pernah satu kali gue melewatkan pergi ke kampus, karena lagi mager abis jumatan, begah karena abis makan, didukung sama FTV yang ada Shareena Rizky nya (sekarang Shareena Delon).

Kombinasi tersebut telah sukses membuat males untuk berangkat kuliah jam 1. Gue baru ke kampus pas setengah 4 pas transisi pergantian mata kuliah satu ke mata kuliah lain. Belakangan temen-temen kelas ngabarin kalau barusan mata kuliah jam 1 itu UTS.
"Oh iya lupa, kalau akhir oktober sama awal november adalah musimnya UTS." umpatan gue dalam hati.

*Seminggu kemudian*
Gue dateng kuliah di hari jumat di jam 1 siang abis jumatan tanpa nonton FTV. Cieee solekh. Gue menanti-nanti kapan dosen ini ngasih remedian. Ternyata apa yang terjadi tak sesuai dengan dugaan , Akhir mata kuliah dosen mengakhirinya dengan biasa aja. Pamit, ucapin salam, kemudian pergi. Mungkin dia gak tau kalau ada salah satu mahasiswanya gak ikut UTS. Oke gue coba bicara perihal remedial minggu depan.

*Seminggu kemudian lagi*
Jumat selanjutnya, di akhir mata kuliah. Gue nyamperin tuh dosen ,berbicara bahwa gue belum ikutan UTS. Dia bilang "Oh kenapa gak ikut? Yaudah nanti yah,sekarang ibu harus ngajar ke kelas lain dulu." Hmm baiklah mungkin minggu depan bisa.

*Seminggu kemudiannya lagi*
Berbeda dengan minggu kemarin, kali ini gue nyamperin dia diawal mata kuliah, biar temen sekelas aja yang belajar, sedang gue bisa menikmati remedial. Gue ngomong perihal ketidak ikut sertaan gue seperti munggu sebelumnya, kali ini dia bilang "Oh kamu yang gak ikut UTS, ibu pikirin dulu kamu remedialnya gimana deh, nanti minggu depan yah ibu bikin soal dulu," "Oke" kata gue.

Berhubung waktu itu gue adalah orang yang gak mau ribet, itu adalah terakhir kalinya gue nagih UTS sama dosen. Didukung juga oleh kabar dari senior mengatakan bahwa dosen itu adalah salah satu dosen yang baik kalo ngasi nilai, jadi gue gak panik. Dan say "masa bodo" untuk remedial.

*Berminggu-minggu kemudian*
Sekitar bulan januari 2013, yaitu masa-masanya dimana nilai ditabulasi dan diupload ke ke SINO (Sistem Informasi Nilai Online), ternyata mata kuliah itu gue dapet D sodara-sodara. Cita-cita menjadi lulusan cumlaude pun harus kandas di semester 3, benar-benar merusak pencapai di semeser 1 dan 2 yang mencapai rata-rata IP  dari 3,5 lebih dikit.
Asli gue nyesel banget gak ikut UTS cuma karena keasyikan nonton Shereena Rizky. Tau gitu gue gak jum'atan deh. *Solekh ilang*


2. Lulusnya Sederhana

Untuk lulus dari SMA kita cuma butuh mengerjakan soal UN selama 4 hari, biasanya dimulai hari senen dan diakhiri hari kamis. Itu juga cuma buletin LJK aja sebulet-buletnya. Berbeda halnya dengan lulus kuliah, 4 bulan pun kadang belum cukup untuk menyelesaikannya. Skripsi lebih ribet dari buletin LJK pake pensil fabercastle. Sumpah!
Kadang gue merasa heran kenapa anak sekolah pada ngeluh soal perkara  UN.
Ada yang bilang gak sebanding perjuangan 3 tahun diukur dengan UN 4 hari!
Ada yang bilang UN cuma buang-buang uang negara!
Ada yang bilang percuma UN kalau ada kunci jawabannya!
Dan beberapa alasan-alasan klise lainnya.
Buliten sebulet-buletnya dan sehitam-hitamnya

Coba renungkan sekali lagi!

Kalian mengerjakan UN di hari yang sama dengan teman-teman, merayakan hari terakhir UN di hari yang sama dengan teman-teman dan lulus di waktu yang sama dengan teman-teman. Lalu disusul corat-coret di hari yang sama dengan teman-teman. Kemudian graduasi di hari yang sama dengan teman-teman, Kalian merasa belum cukup dengan kebersamaaan itu semua? Bukan hanya bersama, tapi kalian "berbahagia" bersama.

Berbeda halnya dengan masa kuliah. percayalah bahwa ungkapan "dunia kuliah tidak seindah dunia  FTV" itu adalah benar adanya. Bukan cuma ungkapan yang hadir hanya lewat pemikiran, tapi ungkapan itu tercipta dari sebuah pengalaman. Pengalaman pahit juga memberikan pelajaran.

Kita harus tetap fokus sama kuliah, gak boleh ada nilai jelek biar gak ditinggal teman seangkatan. Saat skripsipun sama, harus ngerjain skripsi dengan semangat empatlima supaya tidak ditinggalkan lulus duluan oleh teman seperjuangan.

Kebersamaan pas sekolah sudah terlihat bias di masa kuliah. Yang rajin dan pinter akan meninggalkan, yang males dan bego akan ditinggalkan. Pedih memang, tapi itulah kenyataan.

Kadangkala orang yang rajin dan pinter kaya gue pun, bisa ketinggalan kalau ditakdirkan susah mendapatkan waktu untuk bimbingan. Beberapa hari yang lalu gue berniat buat bimbingan, tidak seperti biasanya, yang untuk bimbingan hanya cukup dengan menunggu giliran. Hari itu gue harus punya effort lebih hanya untuk dapat bimbingan.

Kronologinya kayak gini

Gue ngerjain revisian, lalu kirim sms bikin janji. Besoknya gue samperin ke kampus kan, eh dosennya lagi keluar kota, Sorenya dosen sms katanya lagi ada dikampus, eh malah gue nya yang lagi diluar kota. Sial.
Besoknya dosen sama gue sama-sama di Bandung, kita berdua akhirnya bisa ketemu kan, taunya draft revisian nya belum gueprint, Bego.
Gue lari-lari kecil ke fotocopian buat ngeprint, eh malah flashdisk nya ketinggalan di kostan.
Gue terpaksa kan harus pulang ke kostan, Flashdisk ada, yeah. Gue mau print itu file sesegera mungkin, eh fotokopiannya udah tutup. Damn
Gue akhirnya, ikut ngeprint di kostan temen. Balik ke kampus, dosennya ngilang dari peradaban.
Gue tanya ke TU, katanya dia udah masuk kelas. Kagok negro, gue tunggin kan ampe beres ngajar di koridor kelasnya, dia kelar ngajar kita ketemu lagi eh keburu adzan ashar.
Kita akhirnya malah sholat berjamaah.
Abis sholat gue tanya"bu saya mau bimbingan!",
dia jawab "simpen dulu aja draftnya di meja ibu!"
Kan taik yak, setidaknya kerena itu gue akhirnya sholat selain maghrib. Ada hikmah di setiap perbuatan *Solekh mode: ON*

Itulah ribetnya masa kuliah nak, buletin LJK doang mah bukan apa-apa.
Semangat revisian

3. Kerennya Sederhana

Bagi anak SMA, keren itu sederhana. Buat yang cewek, cukup dengan pake rok dan baju yang kekecilan, pake tas anak SD atau tas tante-tante sekalian (nggak boleh tas anak sekolah), udah jadi gaul. Jangan lupa rambut belah tengah, di warnain dikit kalo perlu. Jangan contras tapi
Nah ini cewek keren, bajunya ngatung. Tau ngatung?

Buat cowok keren juga sederhana, cukup dengan baju dikeluarin, celana yang nggak boleh gombrang (bisa pencil atau boot-cut), dan tentu saja bagi sebagian besar kalangan, harus ngerokok. Cukup gitu aja, itu udah berasa keren.

Intinya, waktu SMA, keren itu mudah, tinggal melanggar peraturan. Kata sekolah harus pake baju yang longgar, pakelah baju yang kekecilan. Kata sekolah rambut harus pendek, gondrongkanlah. Kata sekolah di kantin harus bayar, ngutanglah. Kata sekolah harus bayar SPP, jajankanlah. Kata sekolah harus datang jam 7, datang siangan dikitlah, Kata sekolah gak boleh keluar wilayah sekolah, manjat pagerlah.

Pas kuliah juga bisa sih kayak gitu. Tapi bedanya, masa kuliah semua perbuatan ditanggung pelakunya sendiri. Di beberapa kampus ada yang ngewajibin pake pakaian/seragam tertentu. Di kampus gue biasanya jurusan perhotelan, pariwisata, perkantoran, manajemin bisnis, dan beberapa jurusan lainnya ngewajibin pake seragam. Kalau nggak nurutin, ya nggak boleh masuk, bahkan bisa sampai dikasih surat peringatan, bahkan bisa juga di-DO gara-gara itu. Yang membedakan jelas: pemakluman. Nggak ada lagi pemakluman saat sudah bukan lagi anak sekolahan.

Dibeberapa kasus, kuliah memberikan kebebasan. Boleh gondrong, boleh celana kekecilan, boleh bolos (gak boleh sih, tap gak dicariin ini). Gak masuk kuliah berminggu-minggu juga gak akan dipanggil guru BP, apalagi panggil orang tua, dan banyak hal yang terlihat memberikan kebebesan lainnya.

Tapi walau rambut udah dipanjangin sampe sepanjang jalan kenangan, pake celana ketat seketat strategi chelsea lagi parkir bus atau bolos berminggu-mingu pun tetap berasa tak ada artinya.

Kenapa? Karena sudah tidak ada lagi yang namanya Element of Danger disana. Tsah

Jadi intinya gue udah melaui masa SMA dengan keren, sekarang udah bukan waktunya lagi melanggar peraturan. hahahaha *kepedean*
"Tidak apa-apa sesekali merasa hebat, karena zaman sekarang orang-orang rela bayar motivator cuma biar pede"
Berbeda halnya pas gue udah dewasa. Mungkin orang-orang menilai kekerenan orang-orang dari foto IG nya, setelan OOTD nya, atau TOYS nya,  atau jumlah gunung yang dipanjatnya. Namun buat gue ini bukan indikator deh. Mereka hanya lebih punya selera, dan mungkin lebih tau yang dimau karena sudah nemu passion nya.

Gue gak lagi memandang kekerenan seseorang diukur dari seberapa banyak peraturan yang dilanggar. Gue sekarang memandang orang yang keren itu adalah mereka yang punya rencana. Seseorang yang nggak terlalu “let it flow"aja,  “gimana nanti deh”, atau “nikmatin aja dulu”.
Mereka yang keren adalah mereka yang bukan cuma berencana tapi berusaha. Rencana bukan hanya ada dalam lamunan, tapi rencana yang dianalisis jalannya, di-breakdown langkah-langkah menuju ke sananya, dan diyakini serta diterapkan dalam kehidupannya.

Dan sayang nya sekarang gue masih tergolong golongan orang yang "let it flow" aja. Oke fix gue sekarang belum keren. Kalo kamu? udah keren belum.


4. Nongkrongnya Sederhana

Waktu SMA juga, untuk nongkrong, khususnya buat yang anak cowok, rasanya nggak pernah sampe ngorogoh kocek sama sekali. Cukup dengan ngumpul di pinggir jalan setelah bel pulang sekolah, itu udah termasuk kategori nongkrong. Literally nongkrong. Nongkrong dalam arti sebenarnya

FYI  Nongkrong = Jongkok.

Jongkok di pinggir jalan, di depan warung. Beberapa ada yang ngerokok, beberapa lainnya ada yang cuma ikut-ikutan ngerokok. Kopinya nggak perlu yang seharga puluhan ribu sampe harus puasa seminggu, tapi cukup beli yang di warkop, segelas doang diminum rame-rame. Kadangkala Es kelapa muda juga bisa jadi pengganti. Dulu gak perlu harus difoto dan upload fotonya di Path dan Instagram, hidup lebih sederhana tanpa harus pamer.
Nongkrong = Jongkok
















Sederhana bukan?


5. Pertanyaan nya sederhana

Hidup kita sebagai makhluk sosial menuntut kita untuk berkomunikasi. Selain untuk memunuhi kebutuhan sosial sendiri, komunikasi kadang-kadang berakhir dengan sebuah ekspektasi. Baik ekspektasi kita terhadap orang lain, atau ekspektasi orang lain terhadap kita.
Ekpektasi orang lain itu, sejenis apa yang mesti kita capai untuk memenuhi harapan mereka, iya mereka, orang-orang sekitar kita. Biasanya ekspektasi mereka selalu diawali dengan kata "kapan?"

Pas sekolah ditanya "kapan lulus?", udah lulus ditanya "kapan kuliah?", udah kuliah ditanya "kapan skripsi?", udah skripsi ditanya "kapan wisuda?", udah wisuda ditanya "kapan kerja?", udah kerja ditanya "kapan nikah?", udah nikah ditanya "kapan punya momongan?", udah ada anak masih ditanya "kapan nambah?". Pokok nya hidup ini penuh dengan pertanyaan "Kapan?" padahal dalam hati mereka isinya bukan "KAPAN?", tapi "CEPETAN!"

Saat SMA palingan ditanya kapan lulus sama mau kuliah kemana? Iya gak? Jawab aja seadanya, kalau kamu kelas dua, jawab aja setahun setengah lagi. Kalau udah kelas tiga jawab aja nanti bulan Mei. Maybe yes maybe no
Kalau ditanya mau kuliah kemana? jawab aja universitas yang kamu incer yang belum temtu diterima itu. Kalau gue sih, waktu sekolah dulu ditanya gini, gue jawab "mau ke UNPAD" dengan parlente.

Anak 90 pasti di socmednya bertebaran undangan, wedding, atau foto anak baru lahir















Udah lulus sekolah, barulah ladang gandum dihujani hujan coklat  pertanyaan lainnya yang makin sulit dijawab saling bermunculan. Pertanyaan yang sulit yaitu:

(1) "Kapan Kuliah?" gue bilang sulit karena nyatanya banyak yang gak seberuntung gue keterima lewat SNMPTN, mereka ada yang merogoh kocek untuk jalur Ujian Masuk ada yang beralih ke Universitas Swasta.

(2) "Kapan Wisuda?" terbukti dari masih berserakannya mahasiswa tingkat 5 dikampus-kampus di Indonesia, termasuk gue salah satunya. Bahkan kadang-kadang ada mahasiswa yang udah masuk kategori semester dua digit. You know lah, semester 10 keatas maksudnya.

(3) "Kapan Kerja?" sulit sebab katanya "pertambahan jumlah lulusan, tidak sebanding dengan pertambahan lapangan pekerjaan", toh buktinya banyak kan sarjana yang udah lulus jadi pengangguran. Sepertinya gue bakal seperti itu ntar.

(4) "Kapan Nikah?" Walau orang-orang bilang kalo ditanya gini tinggal jawab "Kalo ga minggu yah sabtu." Tapi kenyataanya tak sesederhana itu. Gue yakin orang yang sudah berumur 25 keatas dan masih memiliki predikat jomblo, pasti disetiap malam menjelang tidur otak mereka akan berfikir:

"Kok gue ngerasa ada yang kurang yah, padahal kerjaan ada, uang ada. Cuma pacar aja yang belum, inikah rasanya kesepian? Diantara beberapa hati yang pernah mampir, hampir semuanya berlalu begitu saja. Entah perkara bosan, ketidakpastian, bahkan perbedaan keyakinan, semua berujung dengan ketidakjelasan keadaan.
Sotoy sih ini mah. Hahahaa

(5) "Kapan punya anak?" Walau kenyataanya buat anak itu (katanya) gampang, tapi ngebesarin anaknya itu loh yang susah. Bukan perkara membuatnya, tapi kesiapan mental sama finansial untuk bertanggung jawab membesarkannya. 

Jadi kamu lagi dipusingin pertanyaan yang mana? Aku sih baru dipusingin kapan wisuda? Bentar lagi juga ditanya kapan kerja?

6. Cinta nya sederhana


Masa SMA itu adalah masa yang mudah.

Motor gak sengaja sebelahan di parkiran aja udah ngerasa jodoh.

Nggak sengaja baris deketan pas upacara aja ngerasa udah jadi belahan jiwa

Absen atas-bawah udah ngerasa kita nggak akan terpisahkan.

Ditunjuk guru untuk jadi teman sekelompok aja udah merasa ditakdirkan bersama.

Diajak ketemuan dikantin aja, berasa diajak ke pelaminan.

Study tour duduk sebelahan aja, berasa ini adalah bulan madu kita

Ya, memang. Masa SMA adalah masa paling mudah, bagi sebagian orang, SMA adalah masa paling indah.
Dulu masih terlalu kecil untuk "Galih dan Ratna", sekarang udah cukup besar untuk "Bara dan Felin"















Waktu SMA, untuk dapet pacar, simple banget. Cukup ikut ekskul yang keren, bawa motor dari duit bokap, punya jokes yang berhasil bikin dia ketawa. Kalau udah gitu, modal teh botol sama ngebaso bareng udah bisa jadian. 

Beda banget sama kehidupan selepas SMA. Untuk dapet pacar, kalau motor doang, apalagi cuma   matic, kadang nggak dilirik sama sekali, kalah sama yang bawa mobil (punya bokap juga).

Apalagi untuk dapat pacar selepas kuliah, harus punya kerjaan yang bagus, harus punya rencana masa depan, dan harus merhatiin keluarga dan asal-usul "calon" kita. Belum lagi berantem karena timpangnya kesibukan. Belum lagi soal jarak. Belum lagi soal beda agama. Belum lagi soal restu.

"Urusan cinta juga akan semakin rumit seiring bertambahnya usia"


Kesimpulan

Ah, ini semua hanya untuk mengenang saja. Namun memang, kita tidak bisa senang-senang terus. Semakin dewasa, semakin banyak yang harus dipikirkan dengan matang, semakin harus bisa melihat ke depan. Karena kita tidak mau kalau hidup berjalan seperti ini saja. Aku sih ingin lebih.

Memang masa SMA adalah masa yang bahagia, tapi percayalah tak sebahagia itu. Memang indah untuk dikenang, tapi sayangnya umur tak bisa dikembalikan.

Aku percaya selain masa SMA ada fase kehidupan di masa depan yang lebih bahagia dan akan  lebih sering menjadi kenangan. Fase awal berumah tangga misalnya, fase punya anak pertama, fase liburan keluarga kecil kita, fase sudah memenuhi ekspektasi orang tua, dan fase-fase lainya dalam kehidupan yang kita semua cita-citakan.

Bahagia itu sederhana pas SMA, tapi bahagia itu tidak terlalu rumit juga pas dewasa. Intinya asal kita punya mimpi, angan-angan, khayalan, cita-cita yang terwujudkan. Kebahagiaan pun akan datang mengisi hati menjadi penuh warna. Jadi berusahalah menjadi orang yang lebih baik, bukan hanya biar kamu bahagia, tapi agar membuat orang disekitarmu bahagia juga.

Karena bahagia bersama lebih menyenangkan daripada bahagia sendirian




1 comment:

  1. dari hal2 sederhana tersebut, kita belajar jadi dewasa.. :)

    ReplyDelete